Apa yang dimaksud dengan Padi Organik?
Padi organik adalah padi yang disahkan oleh sebuah badan
independen, untuk ditanam dan diolah menurut standar ‘organik’
yang ditetapkan.
Walau tidak ada satu definisi pun untuk “organik”, kebanyakan
definisi memiliki elemen umum. Misalnya, “organik”
sebagaimana digunakan pada kebanyakan tanaman sawah yang
umumnya berarti bahwa:
1. Tidak ada pestisida dan pupuk dari bahan kimia sintetis
atau buatan yang telah digunakan.
2. Kesuburan tanah dipelihara melalui proses “alami”
seperti penanaman tumbuhan penutup dan/atau
penggunaan pupuk kandang yang dikompos dan
limbah tumbuhan.
3. Tanaman dirotasikan di sawah untuk menghindari
penanaman tanaman yang sama dari tahun ke tahun
di sawah yang sama.
4. Pergantian bentuk-bentuk bukan-kimia dari
pengendalian hama digunakan untuk mengendalikan
serangga, penyakit dan gulma – misalnya serangga
yang bermanfaat untuk memangsa hama, jerami
setengah busuk untuk menekan gulma, dan lain-lain.
Mengapa saya harus menanam padi organik?
Produk “organik” – terutama di pasar-pasar maju – biasanya
menerima harga yang lebih tinggi. Produk organik juga sering
dianggap sebagai memiliki manfaat kesehatan yang lebih besar.
Apa yang terlibat dalam penanaman padi organik?
1. Anda harus mengikuti standar ketat untuk produksi
dan pengolahan yang ditetapkan oleh badan
sertifikasi.
2. Anda mungkin harus membuat dan menyerahkan
rencana tahunan yang memperlihatkan bahwa Anda
akan memenuhi persyaratan produksi dan pengolahan
dari badan sertifikasi.
3. Produk Anda hanya dapat disertifikasi “organik” bila
produk anda ditanam di lahan, yang telah bebas dari
zat-zat terlarang (misalnya, pestisida dan pupuk kimia
buatan) selama tiga tahun sebelum sertifikasi.
4. Tantangan utama dari penanaman padi awalnya
berkaitan dengan pengelolaan hara dan pengendalian
gulma.
Contoh utama mencakup:
a. Nitrogen biasanya disediakan melalui penanaman leguminosa
penutup tanah.
b. Santapan dari tulang merupakan sumber fosfor murah yang
baik (dengan kadar sekitar 12%). Hal ini cepat berfungsi dan
berlangsung sampai 6 bulan. Sumber lain adalah dari Rock
Phosphate, yang memiliki rasio 33%. Dengan Rock Phosphate
Anda hanya akan mendapatkan sekitar 10% pada tahun
pertama karena lamban fungsinya dan berlangsung selama
3-5 tahun.
c. Jerami dan pupuk kandang merupakan sumber kalium yang
baik. Kalium dapat berkadar tinggi dalam air irigasi.
Keterangan lebih lanjut:
Untuk gambaran keseluruhan mengenai praktekpraktek
pengelolaan tanaman, kunjungi
http://www.knowledgebank.irriorg/troprice .
Untuk diagnosa masalah di lapangan, kunjungi
http://www.knowledgebank.irriorg/ricedoctor . Dibuat
dengan masukan dari M.A.Bell.
d. Gulma dapat dikurangi melalui pera-taan lahan yang
baik, pengelolaan air, pengolahan tanah, dan rotasi
tanaman.
e. Sebagian besar serangga dan penyakit dapat
dikendalikan melalui penggunaan varietas yang tepat.
5. Anda akan harus membuat catatan terperinci
mengenai metode dan bahan yang digunakan dalam
penanaman atau pengolahan produk organik untuk
memperlihatkan bahwa standar telah dijaga dan
diperiksa.
6. Anda biasanya akan membutuhkan pihak ketiga yang
disetujui oleh badan sertifikasi nasional untuk
mensertifikasi yang setiap tahun menginspeksi semua
metode dan bahan.
Apa faktor-faktor lain yang harus saya
pertimbang-kan dalam memproduksi padi
organik?
• Menentukan pasar potensial (harga dan ukuran)
untuk produk yang diusulkan.
• Menentukan apakah input yang diperlukan cukup
tersedia untuk membuat usaha tersebut bersifat
ekonomis.
• Menentukan apakah dapat diproduksi produk yang
mencukupi untuk terus memenuhi permintaan pasar
secara tepat waktu dan dengan kualitas yang
diminta.
• Menentukan kebutuhan fasilitas, persyaratan modal
dan pembiayaan, biaya dan laba potensial.
• Menganalisis kebutuhan dan biaya infrastruktur dalam
memastikan pengadaan produk yang kontinyu dan
tepat waktu.
• Mekanisme sertifikasi diperlukan. (JB/MS)
Senin, 27 Oktober 2008
Kiat Hemat Belanja Pangan Organik
KOMPAS, Jumat 11 April 2008! 11:17 WIB
Senin, 30 Juni 2008
umat, 11 April 2008 | 11:17 WIB
Kekhawatiran akan isu penggunaan formalin, pestisida, zat pewarna, serta rekayasa genetika pada produk pangan, membuat produk organik semakin populer. Sayangnya harga produk pangan organik relatif mahal, sehingga hanya mereka yang berpenghasilan tinggi saja yang menjadi konsumennya.
Namun tak perlu khawatir, meski bujet terbatas Anda tetap bisa mengonsumsi produk makanan sehat. Ini dia tipsnya:
1. Belilah produk pangan organik di pasar tradisional sehingga Anda bisa mendapatkan harga lebih rendah daripada di supermarket.
2. Ingin membeli makanan organik dengan harga murah? Datanglah menjelang jam tutup toko. Masakan organik selalu dimasak tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga tidak bisa disimpan lama. Biasanya toko akan menjualnya setengah harga daripada menyimpannya.
3. Jangan segan bertanya pada kenalan, tetangga, atau saudara, yang sudah lebih dulu menjadi konsumen pangan organik. Mereka pasti tahu di mana membeli produk organik dengan harga murah.
4. Pelajari daftar belanja Anda. Pilah-pilah jenis bahan makanan apa yang sebaiknya merupakan produk organik, tidak harus seluruhnya. Misalnya jika Anda merasa khawatir dengan penggunaan pemutih pada beras, pilih beras organik. Memasukkan satu-dua item produk organik daripada tidak sama sekali.
5. Manfaatkan kupon potongan harga.
Saat ini produk pangan organik terus dipopulerkan. Sejumlah hipermarket bahkan secara berkala memberikan potongan harga pada beberapa produk organik yang dijualnya. Manfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan produk pangan yang sehat.
6. Tanam sendiri
Menanam sayuran tak selalu harus dilakukan di lahan yang luas. Di halaman depan rumah atau di pot pun bisa. Anda bisa mencoba dengan jenis sayuran yang mudah ditanam, misalnya cabai, tomat, seledri, atau selada. Gunakan media tanam yang sesuai dan hindari pestisida dalam perawatannya. Lalu nikmati panen pangan organik dari 'kebun' sendiri.
Senin, 30 Juni 2008
umat, 11 April 2008 | 11:17 WIB
Kekhawatiran akan isu penggunaan formalin, pestisida, zat pewarna, serta rekayasa genetika pada produk pangan, membuat produk organik semakin populer. Sayangnya harga produk pangan organik relatif mahal, sehingga hanya mereka yang berpenghasilan tinggi saja yang menjadi konsumennya.
Namun tak perlu khawatir, meski bujet terbatas Anda tetap bisa mengonsumsi produk makanan sehat. Ini dia tipsnya:
1. Belilah produk pangan organik di pasar tradisional sehingga Anda bisa mendapatkan harga lebih rendah daripada di supermarket.
2. Ingin membeli makanan organik dengan harga murah? Datanglah menjelang jam tutup toko. Masakan organik selalu dimasak tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga tidak bisa disimpan lama. Biasanya toko akan menjualnya setengah harga daripada menyimpannya.
3. Jangan segan bertanya pada kenalan, tetangga, atau saudara, yang sudah lebih dulu menjadi konsumen pangan organik. Mereka pasti tahu di mana membeli produk organik dengan harga murah.
4. Pelajari daftar belanja Anda. Pilah-pilah jenis bahan makanan apa yang sebaiknya merupakan produk organik, tidak harus seluruhnya. Misalnya jika Anda merasa khawatir dengan penggunaan pemutih pada beras, pilih beras organik. Memasukkan satu-dua item produk organik daripada tidak sama sekali.
5. Manfaatkan kupon potongan harga.
Saat ini produk pangan organik terus dipopulerkan. Sejumlah hipermarket bahkan secara berkala memberikan potongan harga pada beberapa produk organik yang dijualnya. Manfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan produk pangan yang sehat.
6. Tanam sendiri
Menanam sayuran tak selalu harus dilakukan di lahan yang luas. Di halaman depan rumah atau di pot pun bisa. Anda bisa mencoba dengan jenis sayuran yang mudah ditanam, misalnya cabai, tomat, seledri, atau selada. Gunakan media tanam yang sesuai dan hindari pestisida dalam perawatannya. Lalu nikmati panen pangan organik dari 'kebun' sendiri.
Belajar Organik, Belajar Sabar(*)
Oleh: Omistriyah
(Pengurus KPM/ Kelompok Perempuan Mandiri),
pendamping Usaha Simpan Pinjam dan Kelompok Usaha
Bersama Pertanian – Bogor
Pada tahun 1998 saya mulai belajar bertani, mulai dari buka lahan sampai menanam. Waktu itu hanya satu petak dengan satu atau dua macam tanaman. Setelah berumur tiga minggu, saya pupuk dengan urea terus sampai tahun 2001. Awal tahun 2001 saya mulai mengenai Mas daniel (ELSPPAT-Bogor) dan kawan-kawannya. Mereka sering membicarakan pertanian organik. Saya juga diajak kak Ida (ELSPPAT, Bogor) ke lahan di Desa Geblug untuk melihat pertanian organik. Saya sering bertanya-tanya bagaimana pertanian organik ini…. Waktu itu saya sering memperhatikan Mas daniel di desa Cijulang yang sangat ulet dengan tanamannya. Lama saya belajar dan mengamati pertanian organik ini.
Awal tahun 2002 saya mulai semakin tertarik dengan tanaman organik. Selain mengurangi modal, juga karena pupuk urea semakin melonjak harganya. Saya mulai dengan sama sekali meninggalkan pupuk urea diganti dengan pupuk kandang. Pertama-tama, hasilnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan menggunakan pupuk urea. Bahkan selama tiga kali saya gagal panen, hanya ada sedikit yang bisa dimakan. Dengan kesabaran walaupun rugi, rugi dan rugi tetap saja saya jalankan.
Setelah saya amati ternyata tanah itu keras seperti pasir dan didalamnya tidak ada bakteri-bakteri. Selanjutnya saya coba mengubur sampah dan pupuk kandang. Setelah lima belas hari sampai satu bulan, mulai ada bakteri-bakteri di dalam tanah. Kurang lebih setelah sembilan bulan tanaman mulai kelihatan agak subur. Panennya kadang bisa dijual, meski kadang hanya untuk dimakan saja. Itu hasil belajar di lahan sendiri dengancara tumpang sari, sistem rolling dan rotasi.
Selain itu saya juga belajar pertanian organik bersama kelompok ibu-ibu. Di Dusun Pangkalan sudah berjalan tiga bulan, di Dusun Cijulang sudah berjalan 2,5 bulan. Dimulai dengan belajar membuat kompos guna mengurangi penggunaan pupuk pabrik. (**)
(*) Di tulis ulang dari buku Belajar dari Petani
Penerbit: SPTN-HPS, LESMAN dan Mitra Tani
(Pengurus KPM/ Kelompok Perempuan Mandiri),
pendamping Usaha Simpan Pinjam dan Kelompok Usaha
Bersama Pertanian – Bogor
Pada tahun 1998 saya mulai belajar bertani, mulai dari buka lahan sampai menanam. Waktu itu hanya satu petak dengan satu atau dua macam tanaman. Setelah berumur tiga minggu, saya pupuk dengan urea terus sampai tahun 2001. Awal tahun 2001 saya mulai mengenai Mas daniel (ELSPPAT-Bogor) dan kawan-kawannya. Mereka sering membicarakan pertanian organik. Saya juga diajak kak Ida (ELSPPAT, Bogor) ke lahan di Desa Geblug untuk melihat pertanian organik. Saya sering bertanya-tanya bagaimana pertanian organik ini…. Waktu itu saya sering memperhatikan Mas daniel di desa Cijulang yang sangat ulet dengan tanamannya. Lama saya belajar dan mengamati pertanian organik ini.
Awal tahun 2002 saya mulai semakin tertarik dengan tanaman organik. Selain mengurangi modal, juga karena pupuk urea semakin melonjak harganya. Saya mulai dengan sama sekali meninggalkan pupuk urea diganti dengan pupuk kandang. Pertama-tama, hasilnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan menggunakan pupuk urea. Bahkan selama tiga kali saya gagal panen, hanya ada sedikit yang bisa dimakan. Dengan kesabaran walaupun rugi, rugi dan rugi tetap saja saya jalankan.
Setelah saya amati ternyata tanah itu keras seperti pasir dan didalamnya tidak ada bakteri-bakteri. Selanjutnya saya coba mengubur sampah dan pupuk kandang. Setelah lima belas hari sampai satu bulan, mulai ada bakteri-bakteri di dalam tanah. Kurang lebih setelah sembilan bulan tanaman mulai kelihatan agak subur. Panennya kadang bisa dijual, meski kadang hanya untuk dimakan saja. Itu hasil belajar di lahan sendiri dengancara tumpang sari, sistem rolling dan rotasi.
Selain itu saya juga belajar pertanian organik bersama kelompok ibu-ibu. Di Dusun Pangkalan sudah berjalan tiga bulan, di Dusun Cijulang sudah berjalan 2,5 bulan. Dimulai dengan belajar membuat kompos guna mengurangi penggunaan pupuk pabrik. (**)
(*) Di tulis ulang dari buku Belajar dari Petani
Penerbit: SPTN-HPS, LESMAN dan Mitra Tani
Riset Terbaru Kualitas dan Keamanan Pangan Organik
Oleh: Intan DF, PT BIOCert Indonesia Bogor
Selasa, 02 September 2008
“Bukti ilmiah yang dikumpulkan dari berbagai proyek penelitian selama empat tahun terakhir ini menunjukkan bahwa sistem pertanian organik dengan asupan rendah menghasilkan kualitas dan keamanan pangan yang secara umum lebih baik ketimbang sistem produksi pangan konvensional”, ungkap koordinator proyek QLIF, Prof.Carlo Leifert dari Universitas Newcastle di Inggris. Hasil dan hipotesis baru tersebut disampaikan saat lokakarya terbuka pada Kongres Organik Dunia di Modena (Italia) pada 19-20 Juni 2008.
Komposisi kandungan gizi yang meningkat pada pangan organik
Terdapat tambahan bukti bahwa praktek pertanian organik dan berasupan rendah pada bahan pangan menghasilkan komposisi kandungan gizi yang meningkat. Lokakarya QLIF tersebut mengevaluasi pengetahuan ilmiah terkini tentang komposisi kandungan gizi bahan pangan dari sistem produksi organik dan konvensional secara kritis. Sebagai contoh: tingkat metabolit sekunder yang menguntungkan dari segi gizi, namun efek ini tidak selalu konsisten. Dalam sistem produksi peternakan ditemukan bahwa secara kualitas, pertanian organik lebih menguntungkan, sebagai contoh daging dan susu. Laporan lain yang baru-baru ini dipublikasikan juga memperlihatkan dampak positif pengkonsumsian susu organik .
Keamanan pangan yang tinggi pada produk organik
Penelitian terbaru QLIF juga menunjukkan bahwa tidak ada bukti bahwa sistem produksi dengan asupan rendah menyebabkan resiko kemanan pangan yang lebih tinggi ketimbang sistem produksi konvensional. Namun pada kenyataannya, praktek agronomi yang digunakan dalam pertanian organik menunjukkan penurunan secara berulang dari resiko terkait obat-obatan hewan, residu mikotoksin dan berkembangnya mikro-organisme yang kebal terhadap anti biotik dalam bahan pangan.
Produktivitas yang rendah membawa keuntungan bagi kualitas produk dan lingkungan
Tantangan sistem produksi organik adalah bahwa hasil yang bisa dijual per hektarnya, pada umumnya, lebih rendah ketimbang sistem konvensional. Disisi lain, proyek QLIF telah menyusun strategi untuk meningkatkan hasil beberapa produk pangan seperti gandum, selada dan tomat. Produktivitas yang lebih rendah juga ditengarai sebagai penyebab kualitas produk dan lingkungan yang lebih baik sehingga, (i) asupan nitrogen yang lebih rendah dapat mengurangi pelepasan N yang menyebabkan kualitas air tanah yang lebih baik, (ii) kepadatan tanaman dapat menyebabkan kepadatan flora liar yang lebih tinggi, dan (iii) rotasi tanaman organik yang beranekaragam dapat menciptakan habitat yang menguntungkan bagi serangga, mikroba tanah, dan hewan liar yang terancam punah. Dengan demikian pertanian organik menawarkan keuntungan bagi konservasi alam lokal.
Tantangan terhadap sistem produksi ternak di luar kandang
Sistem produksi organik bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan, selain juga mempertimbangkan lingkungan dimana kita hidup dan pendapatan petani. Hal tersebut bukan merupakan tugas yang mudah, dimana elemen kesejahteraan hewan dan pertimbangan lingkungan tidak selalu berimbang satu sama lainnya. Hasil penelitian QLIF memberikan rekomendasi ke petani dan pihak terkait lainnya mengenai bagaimana mengembangkan peternakan organik. Sebagai contoh dengan menyediakan serat untuk babi guna meningkatkan kesehatan ususnya, dan memasukkan tanaman kering dalam pakan untuk melawan cacing penyebab penyakit.
Efisiensi energi dan emisi gas rumah kaca
Hasil penelitian QLIF dan penelitian lainnya memperlihatkan bahwa dalam hal penggunaan energi dan emisi gas, sistem produksi tanaman pangan umumnya lebih unggul dibandingkan sistem produksi konvensional. Pada sektor peternakan, kesimpulan tersebut lebih bervariasi. Hewan seperti sapi, dapat merumput pada area yang lebih luas, sehingga produksi organik dapat menghasilkan keseimbangan energi yang lebih baik ketimbang sistem konvensional. Namun, efisiensi penggunaan pakan dalam produksi organik seringkali lebih rendah dibandingkan produksi konvensional, dan untuk pakan yang berasal dari sereal dan produk tanaman tahunan lainnya, hal ini menyebabkan keseimbangan energi yang lebih baik pada sistem konvensional.
Sumber: www.organik-market.info
Selasa, 02 September 2008
“Bukti ilmiah yang dikumpulkan dari berbagai proyek penelitian selama empat tahun terakhir ini menunjukkan bahwa sistem pertanian organik dengan asupan rendah menghasilkan kualitas dan keamanan pangan yang secara umum lebih baik ketimbang sistem produksi pangan konvensional”, ungkap koordinator proyek QLIF, Prof.Carlo Leifert dari Universitas Newcastle di Inggris. Hasil dan hipotesis baru tersebut disampaikan saat lokakarya terbuka pada Kongres Organik Dunia di Modena (Italia) pada 19-20 Juni 2008.
Komposisi kandungan gizi yang meningkat pada pangan organik
Terdapat tambahan bukti bahwa praktek pertanian organik dan berasupan rendah pada bahan pangan menghasilkan komposisi kandungan gizi yang meningkat. Lokakarya QLIF tersebut mengevaluasi pengetahuan ilmiah terkini tentang komposisi kandungan gizi bahan pangan dari sistem produksi organik dan konvensional secara kritis. Sebagai contoh: tingkat metabolit sekunder yang menguntungkan dari segi gizi, namun efek ini tidak selalu konsisten. Dalam sistem produksi peternakan ditemukan bahwa secara kualitas, pertanian organik lebih menguntungkan, sebagai contoh daging dan susu. Laporan lain yang baru-baru ini dipublikasikan juga memperlihatkan dampak positif pengkonsumsian susu organik .
Keamanan pangan yang tinggi pada produk organik
Penelitian terbaru QLIF juga menunjukkan bahwa tidak ada bukti bahwa sistem produksi dengan asupan rendah menyebabkan resiko kemanan pangan yang lebih tinggi ketimbang sistem produksi konvensional. Namun pada kenyataannya, praktek agronomi yang digunakan dalam pertanian organik menunjukkan penurunan secara berulang dari resiko terkait obat-obatan hewan, residu mikotoksin dan berkembangnya mikro-organisme yang kebal terhadap anti biotik dalam bahan pangan.
Produktivitas yang rendah membawa keuntungan bagi kualitas produk dan lingkungan
Tantangan sistem produksi organik adalah bahwa hasil yang bisa dijual per hektarnya, pada umumnya, lebih rendah ketimbang sistem konvensional. Disisi lain, proyek QLIF telah menyusun strategi untuk meningkatkan hasil beberapa produk pangan seperti gandum, selada dan tomat. Produktivitas yang lebih rendah juga ditengarai sebagai penyebab kualitas produk dan lingkungan yang lebih baik sehingga, (i) asupan nitrogen yang lebih rendah dapat mengurangi pelepasan N yang menyebabkan kualitas air tanah yang lebih baik, (ii) kepadatan tanaman dapat menyebabkan kepadatan flora liar yang lebih tinggi, dan (iii) rotasi tanaman organik yang beranekaragam dapat menciptakan habitat yang menguntungkan bagi serangga, mikroba tanah, dan hewan liar yang terancam punah. Dengan demikian pertanian organik menawarkan keuntungan bagi konservasi alam lokal.
Tantangan terhadap sistem produksi ternak di luar kandang
Sistem produksi organik bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan, selain juga mempertimbangkan lingkungan dimana kita hidup dan pendapatan petani. Hal tersebut bukan merupakan tugas yang mudah, dimana elemen kesejahteraan hewan dan pertimbangan lingkungan tidak selalu berimbang satu sama lainnya. Hasil penelitian QLIF memberikan rekomendasi ke petani dan pihak terkait lainnya mengenai bagaimana mengembangkan peternakan organik. Sebagai contoh dengan menyediakan serat untuk babi guna meningkatkan kesehatan ususnya, dan memasukkan tanaman kering dalam pakan untuk melawan cacing penyebab penyakit.
Efisiensi energi dan emisi gas rumah kaca
Hasil penelitian QLIF dan penelitian lainnya memperlihatkan bahwa dalam hal penggunaan energi dan emisi gas, sistem produksi tanaman pangan umumnya lebih unggul dibandingkan sistem produksi konvensional. Pada sektor peternakan, kesimpulan tersebut lebih bervariasi. Hewan seperti sapi, dapat merumput pada area yang lebih luas, sehingga produksi organik dapat menghasilkan keseimbangan energi yang lebih baik ketimbang sistem konvensional. Namun, efisiensi penggunaan pakan dalam produksi organik seringkali lebih rendah dibandingkan produksi konvensional, dan untuk pakan yang berasal dari sereal dan produk tanaman tahunan lainnya, hal ini menyebabkan keseimbangan energi yang lebih baik pada sistem konvensional.
Sumber: www.organik-market.info
Vegetarian, Selamatkan Dunia dan Tubuh
Kompas
Selasa, 7 Oktober 2008 | 22:53 WIB
MENJADI vegetarian adalah solusi yang paling mudah, murah, serta beradab untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, serta dan demi kesehatan tubuh. Hal tersulit untuk bervegetarian adalah mengenyahkan sugesti bahwa makan daging itu perlu.
Sugesti paling kuat-dan memprihatinkan-yang telanjur menancap di benak masyarakat adalah bahwa t ubuh akan lemas kalau tidak menyantap daging. Ini seakan mengingkari fakta bahwa daginglah penyebab banyak penyakit yang menurunkan kesehatan tubuh.
"Sudah sangat banyak paparan dari organisasi resmi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan paparan dari ahli medis yang intinya menjelaskan bahaya makan daging," ucap Prasasto Satwiko, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Selasa (7/10).
Namun lanjut dia, informasi seputar berbahayanya daging ini tak sampai ke masyarakat . Jika manusia bisa jernih berpikir, kalau melihat dampaknya, makan daging sebenarnya tidak perlu. Tetapi, sugesti yang menempatkan daging sebagai santapan penting, sulit diubah.
Tentu saja, kalau orang tiba-tiba bervegetarian, tubuhnya terasa kurang bertenaga, aneh, dan otak seperti kurang bisa berpikir. "Tapi, keadaan ini kan seperti perokok yang merasa aneh kalau mendadak berhenti merokok. Artinya adalah, itu hanya sugesti," kata Prasasto, profesor yang juga Guru Besar Fakultas Teknik UAJY ini.
Dengan kata lain, meski daging tidak dikategorikan sebagai bahan aditif yang berbahaya, namun efek psikologis (membuat ketagihan) sudah nyata terpapar. Sayangnya, kondisi ini seakan dianggap angin lalu.
Informasi seputar vegetarian masih diterima secara sepenggal-sepenggal, belum secara sistem. Vegetarian hanya dianggap gaya hidup demi kesehatan atau ajaran agama tertentu. Padahal lebih dari itu, pemanasan global, kerusakan lingkungan, hingga kepunahan hewan, banyak berpangkal dari daging, termasuk ikan. Terkait pemanasan global misalnya, tercermin dari borosnya energi untuk menghasilkan sepotong daging.
Mitos bahwa bervegetarian membuat orang bodoh, juga tidak benar. Banyak orang penting yang mengubah dunia dan mereka vegetarian, misalnya Albert Einstein, Socrates, Plato, Leonardo da Vinci, Charles Darwin, hingga RA Kartini, kata Prasasto.
Indra (27), karyawan swasta di Yogyakarta berpendapat, memang sulit untuk bervegetarian. Sangat sulit mengenyahkan daging dari menu di piring. Sulit juga mencari warung makan yang hanya menyediakan sayuran. "Budayanya sudah budaya makan daging", ujarnya.
Bervegetarian masih dilihat Indra sebatas demi menjaga kesehatan. Saya tidak tahu hubungan vegetarian dengan pemanasan global. "Namun saya meyakini bahwa bergetarian itu baik dari segi apa pun," ucapnya.
Lukas Adi Prasetyo
Selasa, 7 Oktober 2008 | 22:53 WIB
MENJADI vegetarian adalah solusi yang paling mudah, murah, serta beradab untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, serta dan demi kesehatan tubuh. Hal tersulit untuk bervegetarian adalah mengenyahkan sugesti bahwa makan daging itu perlu.
Sugesti paling kuat-dan memprihatinkan-yang telanjur menancap di benak masyarakat adalah bahwa t ubuh akan lemas kalau tidak menyantap daging. Ini seakan mengingkari fakta bahwa daginglah penyebab banyak penyakit yang menurunkan kesehatan tubuh.
"Sudah sangat banyak paparan dari organisasi resmi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan paparan dari ahli medis yang intinya menjelaskan bahaya makan daging," ucap Prasasto Satwiko, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Selasa (7/10).
Namun lanjut dia, informasi seputar berbahayanya daging ini tak sampai ke masyarakat . Jika manusia bisa jernih berpikir, kalau melihat dampaknya, makan daging sebenarnya tidak perlu. Tetapi, sugesti yang menempatkan daging sebagai santapan penting, sulit diubah.
Tentu saja, kalau orang tiba-tiba bervegetarian, tubuhnya terasa kurang bertenaga, aneh, dan otak seperti kurang bisa berpikir. "Tapi, keadaan ini kan seperti perokok yang merasa aneh kalau mendadak berhenti merokok. Artinya adalah, itu hanya sugesti," kata Prasasto, profesor yang juga Guru Besar Fakultas Teknik UAJY ini.
Dengan kata lain, meski daging tidak dikategorikan sebagai bahan aditif yang berbahaya, namun efek psikologis (membuat ketagihan) sudah nyata terpapar. Sayangnya, kondisi ini seakan dianggap angin lalu.
Informasi seputar vegetarian masih diterima secara sepenggal-sepenggal, belum secara sistem. Vegetarian hanya dianggap gaya hidup demi kesehatan atau ajaran agama tertentu. Padahal lebih dari itu, pemanasan global, kerusakan lingkungan, hingga kepunahan hewan, banyak berpangkal dari daging, termasuk ikan. Terkait pemanasan global misalnya, tercermin dari borosnya energi untuk menghasilkan sepotong daging.
Mitos bahwa bervegetarian membuat orang bodoh, juga tidak benar. Banyak orang penting yang mengubah dunia dan mereka vegetarian, misalnya Albert Einstein, Socrates, Plato, Leonardo da Vinci, Charles Darwin, hingga RA Kartini, kata Prasasto.
Indra (27), karyawan swasta di Yogyakarta berpendapat, memang sulit untuk bervegetarian. Sangat sulit mengenyahkan daging dari menu di piring. Sulit juga mencari warung makan yang hanya menyediakan sayuran. "Budayanya sudah budaya makan daging", ujarnya.
Bervegetarian masih dilihat Indra sebatas demi menjaga kesehatan. Saya tidak tahu hubungan vegetarian dengan pemanasan global. "Namun saya meyakini bahwa bergetarian itu baik dari segi apa pun," ucapnya.
Lukas Adi Prasetyo
PENAWARAN PRODUK BERAS ORGANIK
GREEN ORGANIC RICE
BERAS ORGANIK HIJAU
Dengan hormat,
Kami menawarkan produk beras organik GREEN yang merupakan hasil karya petani kecil di daerah Jogjakarta dan Jawa Tengah dengan mendapat bimbingan teknis pertanian organik dari LSM Paguyuban Petani Nelayan Hari Pangan Sedunia dan FAO.
Beras organik ini dihasilkan dengan cara pertanian dengan Metoda System Of Rice Intensification (Methode SRI) yang sudah dikenal didalam negeri dan luar negeri.Pemupukan dalam metode SRI hanya dilakukan dengan pupuk organik yang berasal dari bahan organik seperti hijauan (jerami, batang pisang dan hijauan lainnya) kotoran hewan (kambing, sapi, ayam, kelinci dan kerbau) dimana bahan-bahan tersebut terlebih dahulu dikomposkan. Dengan pengelolaan tanah yang baik dan benar serta didukung teknik penataan dan proses penyuburan tanah (lahan pertanian)dengan menggunakan pupuk organik yang dihasilkan secara swadaya dan mandiri. Untuk pembudidayaan padi secara Intensif selalu memperhatikan managemen perakaran yang berbasis pada pengelolaan tanah, air dan tanaman yang baik sehingga mampu menghasilkan beras yang alami, pulen, dan menyehatkan.
Beras organik GREEN ini merupakan hasil pertanian organik dengan metode SRI oleh PAGUYUBAN PETANI NELAYAN HARI PANGAN SEDUNIA merupakan beras :
1. Tanpa rekayasa genetik
2. Tanpa pestisida buatan
3. Tanpa pengawet
4. Tanpa pemutih
5. Tanpa pupuk kimiawi
6. Tanpa pewangi
7. Tanpa oplosan
Produk beras GREEN tersedia dalam 4 macam yaitu : Beras Merah, Pandan Wangi, Menthik Putih dan Rojolele, dengan kemasan 2,5 kg dan 5 kg, dan 20 kg.
Beras organic GREEN alami, pulen, wangi dan menyehatkan. Harga terjangkau dan jauh lebih murah dari supermarket. Pesanan dapat diantar ke kantor / rumah. Harga beras organik dari kami sebagai berikut :
1. Beras Merah Rp. 10.000,00 / kg
2. Pandan Wangi Rp. 11.000,00 / kg
3. Menthik Putih Rp. 12.000,00 / kg
4. Rojo Lele Rp. 12.000,00 / kg
Dukungan dan partisipasi dari Anda sangat kami harapkan. Dengan membeli maupun dengan memasarkan kembali ke rekan, saudara, keluarga, maupun lingkungan kerja, berarti Anda telah ikut serta membantu upaya dari petani-petani kecil yang berusaha MELESTARIKAN ALAM DAN PENCEGAHAN TERHADAP PEMANASAN GLOBAL. Terima kasih.
Hormat Kami,
TARCITIUS JOKO K.
Marketing Area Jakarta dan Sekitarnya
PEMESANAN :
Tarcitius Joko Kristanto,Cakung Jakarta Timur. No HP: 085-228-206-877 atau 081-791-935-99 dan via mail: green_organic.rice@yahoo.comPembayaran via transfer, cek bank, dan tunai.
BERAS ORGANIK HIJAU
Dengan hormat,
Kami menawarkan produk beras organik GREEN yang merupakan hasil karya petani kecil di daerah Jogjakarta dan Jawa Tengah dengan mendapat bimbingan teknis pertanian organik dari LSM Paguyuban Petani Nelayan Hari Pangan Sedunia dan FAO.
Beras organik ini dihasilkan dengan cara pertanian dengan Metoda System Of Rice Intensification (Methode SRI) yang sudah dikenal didalam negeri dan luar negeri.Pemupukan dalam metode SRI hanya dilakukan dengan pupuk organik yang berasal dari bahan organik seperti hijauan (jerami, batang pisang dan hijauan lainnya) kotoran hewan (kambing, sapi, ayam, kelinci dan kerbau) dimana bahan-bahan tersebut terlebih dahulu dikomposkan. Dengan pengelolaan tanah yang baik dan benar serta didukung teknik penataan dan proses penyuburan tanah (lahan pertanian)dengan menggunakan pupuk organik yang dihasilkan secara swadaya dan mandiri. Untuk pembudidayaan padi secara Intensif selalu memperhatikan managemen perakaran yang berbasis pada pengelolaan tanah, air dan tanaman yang baik sehingga mampu menghasilkan beras yang alami, pulen, dan menyehatkan.
Beras organik GREEN ini merupakan hasil pertanian organik dengan metode SRI oleh PAGUYUBAN PETANI NELAYAN HARI PANGAN SEDUNIA merupakan beras :
1. Tanpa rekayasa genetik
2. Tanpa pestisida buatan
3. Tanpa pengawet
4. Tanpa pemutih
5. Tanpa pupuk kimiawi
6. Tanpa pewangi
7. Tanpa oplosan
Produk beras GREEN tersedia dalam 4 macam yaitu : Beras Merah, Pandan Wangi, Menthik Putih dan Rojolele, dengan kemasan 2,5 kg dan 5 kg, dan 20 kg.
Beras organic GREEN alami, pulen, wangi dan menyehatkan. Harga terjangkau dan jauh lebih murah dari supermarket. Pesanan dapat diantar ke kantor / rumah. Harga beras organik dari kami sebagai berikut :
1. Beras Merah Rp. 10.000,00 / kg
2. Pandan Wangi Rp. 11.000,00 / kg
3. Menthik Putih Rp. 12.000,00 / kg
4. Rojo Lele Rp. 12.000,00 / kg
Dukungan dan partisipasi dari Anda sangat kami harapkan. Dengan membeli maupun dengan memasarkan kembali ke rekan, saudara, keluarga, maupun lingkungan kerja, berarti Anda telah ikut serta membantu upaya dari petani-petani kecil yang berusaha MELESTARIKAN ALAM DAN PENCEGAHAN TERHADAP PEMANASAN GLOBAL. Terima kasih.
Hormat Kami,
TARCITIUS JOKO K.
Marketing Area Jakarta dan Sekitarnya
PEMESANAN :
Tarcitius Joko Kristanto,Cakung Jakarta Timur. No HP: 085-228-206-877 atau 081-791-935-99 dan via mail: green_organic.rice@yahoo.comPembayaran via transfer, cek bank, dan tunai.
Minggu, 26 Oktober 2008
Keajaiban Padi Bondan Winarno - detikFood
Jakarta - Konsumsi beras di Indonesia kian hari kian meningkat. Alangkah eloknya kalau Indonesia bisa swasembada beras lagi, bukannya malah mengimpor beras dari luar negeri. Kini apa yang dapat kita lakukan tentang beras?
Minggu ini saya tetirah ke Bali. Lagi! Hehehe... saya memang sangat mencintai Bali. Dan, untungnya, saya selalu dapat menemukan alasan untuk pergi ke sana. Kali ini alasannya adalah karena saya diundang Janet de Neefe ikut serta di Ubud Writers and Readers Festival. Karena saya harus bicara di dua acara dalam rentang waktu empat hari, maka 'kesantaian' itu saya manfaatkan untuk sekalian mengajak istri.
Salah satu topik yang akan saya diskusikan di sana adalah tentang beras, dalam satu sesi yang bertajuk "Miracle of Rice". Saya bingung. Harus bicara apa tentang beras? Signifikansi beras bagi orang Indonesia dan orang Amerika – misalnya – sangat berbeda.
Konsumsi beras per kapita di Amerika Serikat hanya sekitar 12 kilogram setahun. Itu pun sudah meningkat pesat sejak makanan Asia – Tionghoa, Thai, India, Jepang – makin digemari orang berkulit putih. Rata-rata orang Eropa bahkan hanya memerlukan tiga kilogram beras per tahun.
Di Indonesia, menurut statistik resmi tahun 2002, konsumsi beras per kapita adalah 154 kilogram – atau, sekitar 420 gram per orang per hari – bayi maupun kaum lansia diperhitungkan sama. Artinya, kalau tidak dipukul rata, untuk setiap orang dewasa sebetulnya konsumsi rata-rata beras adalah sekitar 500 gram atau setengah kilogram per hari.
Bagi saya pribadi, angka itu tidak masuk akal. Sejak enam tahun terakhir, tiap hari saya makan nasi sangat sedikit – tidak lebih dari 100 gram beras. Setengah kilogram beras setara dengan empat piring nasi. Benarkah statistik itu? Pada tahun 1970, ketika rakyat masih kesrakat, konsumsi beras per kapita kita hanya mencapai 109,3 kilogram per tahun. Ketika itu masih banyak rakyat lapar. Menteri PU, Ir. Sutami, bahkan tampak kurus kering. Masih banyak pula anggota DPR kita yang kurus. Berat badan saya di tahun 1970 adalah sekitar 60 kilogram. Keren deh, pokoknya!
Pada tahun 1988, statistik kita menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang juga tercermin pada menggelembungnya konsumsi beras per kapita per tahun mencapai 144,8 kilogram. Di tahun itu, berat badan saya sekitar 80 kilogram. Rupanya, saya juga terimbas sindrom kemakmuran itu.
Di tahun itu juga, Republik Indonesia yang di tahun 2004 mendapat pujian FAO karena mampu mencapai tingkat keswasembadaan beras, mulai kesulitan mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Dengan dalih untuk menjaga buffer stock, Indonesia mulai impor beras lagi.
Memasuki dekade 1990-an sebetulnya ada trend terbalik dalam gaya hidup masyarakat modern. Ketika itu, gaya hidup yang disebut fit lifestyle mulai merasuk dunia. Makan banyak bukan lagi merupakan simbol kemakmuran. Peluh atau keringat menjadi simbol gaya hidup yang baru. Masih ingat bagaimana gaya senam dan aerobik Jane Fonda menjadi pujaan ibu-ibu di masa itu?
Fit lifestyle juga mengubah pola makan. Orang mulai peduli tentang makanan yang sehat dan makanan mana yang baik dimakan. Kolesterol jadi bahan pembicaraan di arisan ibu-ibu wangi. Nasi? "Wah, saya sekarang cuma beli beras buat bediend (pembantu) dan chauffeur (supir), kok, Jeng." Supaya tetap tampil langsing, para ibu-ibu mengurangi makan nasi. Begitu juga para om-om dan opa-opa genit, supaya tetap menarik di mata para gadis remaja yang mengaku artis atau model.
Dua tahun yang lalu, di dalam perjalanan dengan pesawat terbang, kebetulan saya duduk di sebelah seorang mantan pejabat Departemen Pertanian. Menurut pengamatan saya, dia masih terlalu muda untuk pensiun. "Kalau saya pintar-pintar, tentu saya masih aktif, Mas. Bahkan mungkin sudah di Eselon Satu. Tetapi, karena saya hanya pintar, maka saya harus tersingkir," katanya.
Dialah yang mengatakan kepada saya bahwa dia menentang penetapan angka konsumsi beras per kapita sebesar 154 kilogram di tahun 2002 itu. "Angka itu rekayasa kok, Mas. Supaya ada alasan untuk meningkatkan impor beras, dan supaya ada dana politik yang dapat disisihkan dari kegiatan impor itu," tambahnya.
Kalau tidak salah, seingat saya, dia menyebut angka 148 untuk konsumsi beras per kapita per tahun. "Beda enam kilo bila dikalikan 220 juta kan signifikan. Ya toh, Mas?" Ya, iyalah! Saya ingat, mulai tahun 2002 saya sudah berhasil menjaga berat badan di tingkat 73-74 kilogram. Konsumsi beras di rumah kami juga merosot tajam, bukannya meningkat.
Baiklah, saya cukupkan dulu omong kosong politik itu sampai di sini. Saya hanya ingin sedikit membukakan mata kita terhadap kenyataan politik kita. Kita sebagai rakyat telah dibohongi di siang bolong oleh para pemimpin kita. Sudah saatnya kita punya pemimpin yang tidak bohong. Karena itu sekarang sudah jarang ada upacara yang ditandai dengan pemukulan gong. Soalnya, bunyi gong-nya sudah berubah menjadi: "Bohooooong! Bohooooong! Bohooooong!"
Kembali ke soal kuliner. Apa yang dapat kita lakukan tentang beras? Alangkah eloknya kalau Indonesia bisa swasembada beras lagi. Tetapi, itu tampaknya jauh panggang dari api kecuali kita semua bersedia menurunkan tingkat konsumsi beras. Dan ini sangat penting! Bukan saja agar mesin uang untuk mendanai mesin politik tersumbat, tetapi juga cocok dengan "Go Green!" yang sekarang sedang menjadi kepedulian bersama.
Tahukah Anda bahwa untuk menghasilkan satu kilogram beras diperlukan sekitar 2000 liter air? Bandingkan dengan produksi satu kilogram daging sapi yang memerlukan 20.000 liter air (Catatan: angka ini sudah dibantah oleh asosiasi daging sapi AS). Sekalipun vegetarian lebih ramah lingkungan dibanding karnivora, tetap saja vegetarian gendut mengambil sumber daya alam lebih banyak daripada vegetarian langsing.
Langsing, sehat, dan bugar. Siapa takut? ( dev / Odi)
Minggu ini saya tetirah ke Bali. Lagi! Hehehe... saya memang sangat mencintai Bali. Dan, untungnya, saya selalu dapat menemukan alasan untuk pergi ke sana. Kali ini alasannya adalah karena saya diundang Janet de Neefe ikut serta di Ubud Writers and Readers Festival. Karena saya harus bicara di dua acara dalam rentang waktu empat hari, maka 'kesantaian' itu saya manfaatkan untuk sekalian mengajak istri.
Salah satu topik yang akan saya diskusikan di sana adalah tentang beras, dalam satu sesi yang bertajuk "Miracle of Rice". Saya bingung. Harus bicara apa tentang beras? Signifikansi beras bagi orang Indonesia dan orang Amerika – misalnya – sangat berbeda.
Konsumsi beras per kapita di Amerika Serikat hanya sekitar 12 kilogram setahun. Itu pun sudah meningkat pesat sejak makanan Asia – Tionghoa, Thai, India, Jepang – makin digemari orang berkulit putih. Rata-rata orang Eropa bahkan hanya memerlukan tiga kilogram beras per tahun.
Di Indonesia, menurut statistik resmi tahun 2002, konsumsi beras per kapita adalah 154 kilogram – atau, sekitar 420 gram per orang per hari – bayi maupun kaum lansia diperhitungkan sama. Artinya, kalau tidak dipukul rata, untuk setiap orang dewasa sebetulnya konsumsi rata-rata beras adalah sekitar 500 gram atau setengah kilogram per hari.
Bagi saya pribadi, angka itu tidak masuk akal. Sejak enam tahun terakhir, tiap hari saya makan nasi sangat sedikit – tidak lebih dari 100 gram beras. Setengah kilogram beras setara dengan empat piring nasi. Benarkah statistik itu? Pada tahun 1970, ketika rakyat masih kesrakat, konsumsi beras per kapita kita hanya mencapai 109,3 kilogram per tahun. Ketika itu masih banyak rakyat lapar. Menteri PU, Ir. Sutami, bahkan tampak kurus kering. Masih banyak pula anggota DPR kita yang kurus. Berat badan saya di tahun 1970 adalah sekitar 60 kilogram. Keren deh, pokoknya!
Pada tahun 1988, statistik kita menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang juga tercermin pada menggelembungnya konsumsi beras per kapita per tahun mencapai 144,8 kilogram. Di tahun itu, berat badan saya sekitar 80 kilogram. Rupanya, saya juga terimbas sindrom kemakmuran itu.
Di tahun itu juga, Republik Indonesia yang di tahun 2004 mendapat pujian FAO karena mampu mencapai tingkat keswasembadaan beras, mulai kesulitan mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Dengan dalih untuk menjaga buffer stock, Indonesia mulai impor beras lagi.
Memasuki dekade 1990-an sebetulnya ada trend terbalik dalam gaya hidup masyarakat modern. Ketika itu, gaya hidup yang disebut fit lifestyle mulai merasuk dunia. Makan banyak bukan lagi merupakan simbol kemakmuran. Peluh atau keringat menjadi simbol gaya hidup yang baru. Masih ingat bagaimana gaya senam dan aerobik Jane Fonda menjadi pujaan ibu-ibu di masa itu?
Fit lifestyle juga mengubah pola makan. Orang mulai peduli tentang makanan yang sehat dan makanan mana yang baik dimakan. Kolesterol jadi bahan pembicaraan di arisan ibu-ibu wangi. Nasi? "Wah, saya sekarang cuma beli beras buat bediend (pembantu) dan chauffeur (supir), kok, Jeng." Supaya tetap tampil langsing, para ibu-ibu mengurangi makan nasi. Begitu juga para om-om dan opa-opa genit, supaya tetap menarik di mata para gadis remaja yang mengaku artis atau model.
Dua tahun yang lalu, di dalam perjalanan dengan pesawat terbang, kebetulan saya duduk di sebelah seorang mantan pejabat Departemen Pertanian. Menurut pengamatan saya, dia masih terlalu muda untuk pensiun. "Kalau saya pintar-pintar, tentu saya masih aktif, Mas. Bahkan mungkin sudah di Eselon Satu. Tetapi, karena saya hanya pintar, maka saya harus tersingkir," katanya.
Dialah yang mengatakan kepada saya bahwa dia menentang penetapan angka konsumsi beras per kapita sebesar 154 kilogram di tahun 2002 itu. "Angka itu rekayasa kok, Mas. Supaya ada alasan untuk meningkatkan impor beras, dan supaya ada dana politik yang dapat disisihkan dari kegiatan impor itu," tambahnya.
Kalau tidak salah, seingat saya, dia menyebut angka 148 untuk konsumsi beras per kapita per tahun. "Beda enam kilo bila dikalikan 220 juta kan signifikan. Ya toh, Mas?" Ya, iyalah! Saya ingat, mulai tahun 2002 saya sudah berhasil menjaga berat badan di tingkat 73-74 kilogram. Konsumsi beras di rumah kami juga merosot tajam, bukannya meningkat.
Baiklah, saya cukupkan dulu omong kosong politik itu sampai di sini. Saya hanya ingin sedikit membukakan mata kita terhadap kenyataan politik kita. Kita sebagai rakyat telah dibohongi di siang bolong oleh para pemimpin kita. Sudah saatnya kita punya pemimpin yang tidak bohong. Karena itu sekarang sudah jarang ada upacara yang ditandai dengan pemukulan gong. Soalnya, bunyi gong-nya sudah berubah menjadi: "Bohooooong! Bohooooong! Bohooooong!"
Kembali ke soal kuliner. Apa yang dapat kita lakukan tentang beras? Alangkah eloknya kalau Indonesia bisa swasembada beras lagi. Tetapi, itu tampaknya jauh panggang dari api kecuali kita semua bersedia menurunkan tingkat konsumsi beras. Dan ini sangat penting! Bukan saja agar mesin uang untuk mendanai mesin politik tersumbat, tetapi juga cocok dengan "Go Green!" yang sekarang sedang menjadi kepedulian bersama.
Tahukah Anda bahwa untuk menghasilkan satu kilogram beras diperlukan sekitar 2000 liter air? Bandingkan dengan produksi satu kilogram daging sapi yang memerlukan 20.000 liter air (Catatan: angka ini sudah dibantah oleh asosiasi daging sapi AS). Sekalipun vegetarian lebih ramah lingkungan dibanding karnivora, tetap saja vegetarian gendut mengambil sumber daya alam lebih banyak daripada vegetarian langsing.
Langsing, sehat, dan bugar. Siapa takut? ( dev / Odi)
Langganan:
Postingan (Atom)