Selasa, 28 Oktober 2008

Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Tanaman Organik Dunia

21/09/07 17:18


Jakarta (ANTARA News) - Indonesia dinilai memiliki potensi yang besar untuk menjadi produsen tanaman organik terbesar di dunia.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta, Jumat mengatakan, Indonesia sangat kaya plasma nutfah dan sebagian besar lahan pertaniannya, khususnya di luar Jawa masih bersifat"virgin sehingga dengan sendirinya produk yang dihasilkannya merupakan pangan organik.

"Bagi Indonesia produk pertanian organik yang dapat kita hasilkan seharusnya bisa lebih beragam dari Thailand," katanya.

Anton mengatakan, Indonesia memiliki berbagai macam varietas buah tropis, selain itu juga produk organik di sektor perkebunan seperti kopi, lada dan coklat.

Potensi produk organik tersebut juga terdapat pada komoditas tanaman pangan di antaranya padi dan jagung serta di sektor peternakan dan perikanan.

"Selain itu potensi pasar dalam negeri di Indonesia juga lebih besar dari Thailand. Ini menggambarkan potensi dan prospek pertanian di Indonesia sangat bagus," katanya.

Mentan menyatakan, pertumbuhan pasar produk pangan organik di dunia meningkat pesat yang mana pada 1997 baru sekitar 10 miliar dolar AS namun pada 1998 telah mencapai 13 miliar dolar AS.

Pada 2003, kata Mentan pada peluncuran "Workshop Nasional Pengembangan Pangan Organik" dan "Indonesian Organic and Healthy Expo 2007", pasar global produk pangan organik tersebut meningkat hingga mencapai 27 miliar dolar AS.

Pasar global produk pangan organik, sebagian besar berada di negara maju khususnya Eropa, Amerika dan Jepang.

"Diperkirakan pasar pangan organik global akan mencapai angka 100 miliar dolar AS pada 2010," katanya.

Sementara itu pertumbuhan pasar pangan organik di Indonesia terlihat dengan meningkatnya jumlah petani organik, outlet-outlet supermarket dan rumah makan yang menjual produk pangan organik.

Selain itu, lanjut Mentan, pemasaran produk organik ke Eropa seperti kopi dan rempah-rempah serta sayuran organik ke Singapura mulai berkembang.(*)

Memandirikan Petani dengan Bertani Organik

Jakarta, Kompas - Teknologi pertanian yang mengedepankan bibit hibrida, transgenik, pestisida, pupuk kimia, maupun hormon pertumbuhan ternyata hanya akan berujung pada ketergantungan petani. Pertanian organik-yang ramah lingkungan-menjadikan petani lebih mandiri dari ketergantungan atas sarana produksi pertanian yang harganya terus naik.

Demikian benang merah dari diskusi peluncuran buku Belajar dari Petani: Kumpulan Pengalaman Bertani Organik yang diselenggarakan di antaranya oleh Jaringan Organisasi Non Pemerintah Pendamping Petani, Konphalindo, Lesman, dan Yayasan Mitra Tani di Jakarta, Jumat (24/10).

Buku itu merupakan kumpulan tulisan pengalaman 50 petani organik di berbagai daerah di Jawa. Selain itu, dipaparkan juga berbagai tips bertani dan resep pestisida alami serta pupuk alami. Bahkan, secara rinci ada yang mencatatkan perhitungan biaya bertani organik yang jauh lebih murah ketimbang bertani non-organik.

Damayanti Buchori, peneliti Departemen Hama dan Penyakit Institut Pertanian Bogor, mengatakan, pertanian organik tidak berarti harus meninggalkan sama sekali bahan kimia seperti pupuk. Namun, hal itu merupakan proses yang bertahap dalam mengembangkan pertanian organik. "Prinsipnya, seminimal mungkin atau sama sekali meninggalkan pupuk dan pestisida kimia," katanya.

Menurut dia, pertanian non- organik telah membuat petani terperangkap dalam teknologi yang tidak mampu mereka ciptakan sendiri dan hanya menjadi pengguna. Sementara nilai tukar produk pertanian terhadap teknologi yang digunakan, seperti bibit hibrida, pestisida, dan pupuk, terus merosot.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf mengatakan, pertanian non-organik selama ini hanya mengerdilkan petani di atas kesejahteraan industri-industri besar produsen bibit, pupuk kimia, dan pestisida. Pertanian organik mendekatkan lagi petani dengan alam dengan menghargai keanekaragaman hayati dalam keseimbangan ekosistem.

"Pertanian organik sebenarnya kontra revolusi petani atas revolusi hijau. Petani revolusi diam-diam, tanpa kekerasan dan demonstrasi," ujar Sonny.

Damayanti mengatakan, pertanian non-organik lama kelamaan ternyata menimbulkan banyak masalah. Misalnya, unsur hara tanah yang semakin berkurang sehingga tanah menjadi keras, bantat, dan sulit digarap. Hama tanaman lama juga semakin resisten akibat penggunaan pestisida kimia.

"Predator atau musuh-musuh alami hama akibatnya punah sehingga mengganggu ekosistem. Sebab, pestisida akhirnya bukan memusnahkan hama, tetapi justru predator alami hama itu," kata Damayanti. Selama ini pestisida kerap digunakan berlebihan, bahkan sebelum hama itu muncul.

Hendrastuti, petani organik dari Kulon Progo, DIY Yogyakarta, menuturkan, pertanian organik telah menjadi jalan bagi petani untuk mendekatkan kembali kepada alam dan kearifan tradisional. Sejak mengenal pertanian organik tahun 1993, Hendrastuti berhasil mengembangkan benih padi lokal yang tidak rakus unsur hara tanah dan tahan serangan hama. "Ilmu titen (mencermati-Red) dan kesabaran yang sebelumnya tergeser oleh pertanian modern kembali menjadi pedoman bagi petani. Prinsip keberlanjutan pertanian organik ini membuat tanah dan tanaman sehat," katanya.

Hendrastuti memanfaatkan pupuk kandang, pupuk hijau, dan jerami untuk menyuburkan lahan pertanian. Sementara pestisida alami yang diramunya, misalnya dari campuran daun mindi, buah lamtoro, dan daun kenikir. Untuk mengatasi ledakan hama, tanaman digilir untuk memutus siklus perkembangbiakan hama, misalnya dengan padi-padi-palawija.

Damayanti meyakini gerakan pertanian organik akan semakin meluas di Indonesia. Jika terus digalakkan, pertanian organik juga dapat menjadi jalan keluar bagi ketahanan pangan. Namun, dia menggarisbawahi paradigma ketahanan pangan seharusnya difokuskan pada ketahanan pangan lokal yang menghargai keanekaragaman bahan pangan pokok masyarakat. (B14)

Petani Tangguh

August 13th, 2008 0leh Ninda Jogja Kategori: Info & Uneg-uneg


Beberapa waktu lalu saya diminta menjadi MC untuk acara Jumpa Pers KFC Goes To Organic. Ini adalah acara untuk memperkenalkan nasi dari beras organik yang sekarang menjadi hidangan di KFC.

Saya bersemangat banget untuk mengetahui keunggulan nasi dari beras organik ini. Lebih bersemangat lagi karena mendengar bahwa saat ini konsumsi bahan-bahan organik bukan lagi tren semata, melainkan sudah menjadi kebutuhan, seiring kesadaran masyarakat akan konsumsi makanan sehat yang makin meningkat.

Sejak hari itu sebetulnya saya pengin banget tahu lebih banyak tentang tanaman organik. Tapi belum juga ada kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan petani dan mereka yang bergerak di bidang agrobisnis, apalagi lihat langsung area penanamannya.

Eeeeh.. nggak berapa lama kemudian, seorang teman, Fransiska, kirim sms cukup panjang. Ini nih uneg-unegnya :

”Ternyata jadi petani organik itu susah banget. Panen tomat dan kacang ku gagal. Tanamanku yang mulai berbuah, in two nights diserang hama binatang, 60% lost. Buset, yang ganggu tuh banyak banget. Amazing apa yang petani kita gone throgh day to day to ensure panen.

Pelajaran yang aku petik :

1. Bertani organik itu susah. Sebelumnya aku pikir apa susahnya sih jadi petani di Indonesia? Tinggal tanam, tumbuh, panen. Tapi ternyata nggak gampang. Banyak bener musuhnya, dari kutu, belalang, rayap, sampai burung.

2. Kalau petani kita gampang menyerah dan nggak tangguh, pasti pemakaian pestisida bisa makin banyak, karena hama sudah imun dengan dosis kecil. Bisa-bisa bumi ini tambah banyak racunnya.Hmmm…aku sekarang punya respek baru buat petani.”

Saya melongo…betapa nggak pedulinya saya selama ini. Saya juga nggak pernah peduli kalau Fakultas Pertanian di semua Universitas kita ini makin sedikit peminatnya. Mungkin karena lulusannya dianggap nggak bergengsi? Entahlah. Tapi memang sejak kecil saya nggak pernah dengar ada teman yang menjawab ingin jadi petani atau sarjana pertanian kalau ditanya apa cita-citanya kelak (termasuk saya juga dhing).

Hmmm…apa ya yang bisa kita lakukan untuk para petani kita?

Gerakan Organik

Sebagian besar petani-petani di Indonesia –khususnya di luar Jawa—adalah para petani organik yang terbentuk secara tidak sengaja justru karena mereka tidak menjadi target atau berpartisipasi dalam “revolusi hijau” dan masih tetap melanjutkan metode pertanian tradisional. Di wilayah lain, para petani tidak lagi dapat membeli pestisida dan pupuk ketika harga melonjak sebagai akibat krisis ekonomi. Hal ini berarti bahwa argumen tentang pertanian organik telah mulai memiliki makna yang semakin berarti. Beberapa kelompok petani dan LSM melihat pertanian organik sebagai cara melawan dampak buruk revolusi hijau, dan membebaskan para petani dari dominasi revolusi hijau – seperti ketergantungan terhadap pupuk kimia, pestisida dan bahan-bahan pertanian lainnya yang sejenis.

Meskipun demikian, kesadaran publik tentang apa yang disebut sebagai “pertanian organik” serta kebutuhan konsumen terhadap tanaman organik masih sangat rendah di Indonesia (tak ada sertifikasi atau penggunaan label secara nasional untuk makanan organik seperti juga tidak adanya label bagi makanan mengandung GMO. Salah satu toko yang menjual bahan-bahan organik dibentuk di Yogyakarta pada tahun 1997 oleh Konsorsium Komunitas Pedagagan yang Adil, dengan dana dari Oxfam. Para pemilik toko, yang mengembalikan sebagian besar keuntungan kepada para petani, mengatakan bahwa cukup sulit untuk mendapatkan orang yang mau membayar harga lebih teinggi bagi hasil organik.

LSM-LSM seperti Jaringan Aksi Pestisida (PAN) Indonesia, SPTN-HPS, ELSPPAT (Bogor) dan Sintesa di Sumatra Utara sedang mencoba mengangkat perdebatan tentang pertanian di masyarakat di mana pada saat bersamaan melaksanakan program-program praktis dengan kelompok-kelompok petani. Mereka adalah anggota-anggota Jaringan Kerja Pertanian Organik yang anggotanya adalah LSM dan kelompok petani. Meskipun jaringan tersbut bukan anggota IFOAM, (International Federation of Organic Agriculture Movements) atau Federasi Internasional Gerakan Pertanian Organik (lihat www.ifoam.org) jaringkan kerja nasional tersebut telah bekerja sama dengan IFOAM dalam berbagai kegiatan.

Tanah

Organisasi-organisasi LSM di Indonesia yang memiliki hubungan kuat dengan gerakan untuk mendapatkan tanah atau reformasi agraria berpendirian bahwa penguasaan tanah dan kondisi lingkungan politik yang terbuka dan demokratis merupakan landasan dasar pertanian yang berkelanjutan. ‘Berkelanjutan’ berarti bukan sekedar berkelanjutan dalam bidang lingkungan, tetapi juga secara sosial, politik dan ekonomi. Mereka telah menjalankan kegiatan-kegiatan yang kongkrit sebagai titik tolak untuk membantu para petani agar dapat menguasai kembali lahan dan juga meningkatkan kekuatan tawar mereka di pasar. Para petani juga telah bergerak untuk memperjuangkan hak-hak mereka secara khusus dan memperjuangkan reformasi agraria secara umum. (Jakarta Post 19/Feb/01; konferensi pers dengan ELSPPAT).

Proyek Organik ELSPPAT

Selama kunjungannya ke London, pendiri ELSPPAT, Any Sulstyowati menjelaskan program pertanian organik skala kecil yang dikerjakan oleh LSM di atas lahan-lahan kecil di Bogor:

”Program ini bertujuan menyediakan pekerjaan bagi para pekerja informal yang menganggur akibat krisis ekonomi. Program ini ini dimulai dengan penggunaan lahan kecil yang disewa dari seorang pemilik tanah di kota, yang biasanya digunakan untuk menanam sayuran. Selanjutnya, program ini kemudian berkembang dengan memasukkan beberapa petak tanah yang dimiliki petani, atau tanah orang lain yang disewa bagi petani tak bertanah.

Produk-produk mereka dijual oleh koperasi petani (kelompok-kelompok petani) yang dibentuk melalui program yang menggunakan sistem pengantaran secara langsung kepada konsumen yang dengan demikian berupaya memotong jalur para perantara. Barang-barang ini kemudian ditentukan perbedaan hargannya antara pasar tradisional dan harga supermarket. Pada awalnya, kita menjual barang-barang ini kepada orang-orang LSM, tetapi kemudian, dari mulut ke mulut, kita juga bisa menjual lebih banyak kepada ibu-ibu rumah tangga di perkotaan yang mulai membeli barang kami.

Ketika kami melakukan hal ini, kita seringkali mendapatkan komentar-komentar dari para petani tua yang tinggal berdekaatan, saat mereka melihat kami menggunakan pupuk kompos, yang mengatakan “kenapa kamu menggunakan cara lama? Kita telah meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu!” Meskipun demikian, petani-petani ini tertarik dengan kenyataan bahwa kita tidak perlu membayar mahal untuk bahan-bahan kimia dan kita bisa memotong jalur para perantara untuk menjual barang.

Dalam pengalaman kami, persoalan pertanian organik sangat membutuhkan pupuk organik dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, sepanjang para petani tidak memiliki ternak, mereka harus membelinya. Dengan demikian, gagasan kita adalah untuk menciptakan sistem pertanian organik yang terintegrasi. Tetapi, sebelum kita mencapai tahapan ini, kita harus berurusan terlebih dahulu dengan kebutuhan-kebutuhan dasar petani. Persoalannya mereka tidak bisa mendapatkan uang yang cukup dari kegiatan pertanian tersebut karena tanah mereka sangat terbatas.

Sekarang ini telah ada lebih banyak peluang untuk bekerja di sektor informal. Khususnya di desa-desa di mana di wilayah sekitarnya terdapat peningkatan permintaan untuk pekerjaan konstruksi untuk membangun kuburan Cina. Kebanyakan orang-orang muda yang telah kembali bekerja, tetap terlibat dalam dialog yang berkelanjutan dengan para petani di desa tetangga mereka tentang kegunaan pertanian organik serta koperasi yang menjual apa yang kita ingin kembangkan menjadi program yang lebih berkelanjutan.”

SOLIHIN- Profil Petani ORGANIK

Berawal dari keinginannya untuk hidup sehat, Solihin, salah seroang petani di Desa Pleret, Bantul, Yogyakarta, mencoba untuk menanam padi organik.

Pada mulanya, menanam padi organik dirasakan sangat sulit dan melelahkan. Namun didorong keinginannya untuk menjaga kesehatan, rasa lelah itu tidak dirasakannya. Bahkan sekarang hanya rasa senang yang diperolehnya ketika berada disawah.

Beras dari hasil panennya itu dia tawarkan ke beberapa orang terdekat. Dan ternyata nasi dari beras organik banyak yang disukai orang. Hal ini dikarenakan rasanya yang enak, sedikit gurih (tanpa perasa makanan). Sehingga sekarang banyak yang berminat untuk membeli beras organik.

Karena permintaan yang tidak seimbang, hasil produksi padinya tidak cukup untuk memenuhi permintaan konsumen. Solihin terpaksa mengajak beberapa orang petani untuk dibina sebagai petani organik.

Dari binaannya, beberapa petani berhasil menjadi petani organik, tapi sebagian yang lain tidak berhasil.

Untuk menjadi petani organik ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Selain harus telaten, ternyata diperlukan juga mental yang kuat.

Produksi padi organik biasanya lebih rendah dari padi yang dikelola secara konvensional., apalagi bila terserang hama, hal ini dapat menghancurkan tanaman padi. Namun demikian produksi yang rendah tersebut dapat diimbangi dengan harga yang lebih tinggi dari pada beras biasa.

Melihat kondisi seperti itu beberapa petani mundur untuk menjadi petani organik. Namun sebagaian yang lain memilih untuk tetap maju. Bahkan sebagian petani organik sudah memiliki pasar tersendiri untuk beras organiknya, selain untuk kebutuhannya sendiri.

Jogakarta, 14 Januari 2006

Study Tour Ke Puncak, Bogor- Pater Agatho

Senin, 28-04-2008 09:38:54 oleh: Dhella Ella Kanal: Gaya Hidup

Study tour kali ini kita bersama dengan guru pendamping kami, Bu Ivon pergi ke Puncak, Bogor untuk membahas tentang sayur organic yang dikelola oleh Pater Agatho. Kami sempat pergi ke tempatnya, namun karena beliau sedang berhalangan, maka kami didampingi oleh temannya. Walaupun begitu, kami tetap merasa senang. Kami terdiri dari Laurencia Novi (XI IPS 1), Deirdre Tenawin (XI IPS 1), Maria Dhella (XI IPS 2), dan Michael Vincent (XI IPA1). Apa yang kita makan katanya akan menentukan siapa kita. Ungkapan ini tentu saja tidak semata-mata menyangkut makanan apa yang kita makan, di mana kita makan, dan bagaimana kita memakan makanan itu. Pengaruh sangat jelas makanan adalah terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, dan sampai batas tertentu, kecantikan dan kemudaankita.

Dengan alasan kesehatan itulah kini semakin banyak orang-setidaknya di Jakarta-yang sukarela mau merogoh kantong mereka untuk membeli makanan organik. Makanan itu juga semakin banyak ditawarkan di berbagai took swalayan, bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksisecara organik. Makanan organik adalah makanan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau artifisial dan atau pestisida sintetis, tetapi menggunakan pupuk organik seperti menur dari kotoran dan feses ternak, yang dikenal sebagai pupuk kandang serta kompos.

Mengonsumsi makanan sehat atau makanan berbasis material-material organik kini menjadi pilihan sejumlah orang. Penyanyi Melly Manuhutu mulai berkenalan dengan sayuran organik karena kebetulan dia tinggal di kawasan Ciburial, Cisarua, Jawa Barat. Di tempat tinggalnya itu, ia dengan mudah mendapatkan sayuran organik yang ditanam di kebun yang dimiliki oleh Pater Agatho. Penyanyi yang pernah hamil tetapi kemudian keguguran itu memakan beragam sayuran organik, seperti wortel, bayam, selada, lobak, labu siam, tomat, selain ubi, dan pisang. Bahkan ayam dan telur pun dia pilih yang diproduksi secara organik. APA pun alasan yang disampaikan para konsumen makananorganik, entah dengan alasan kesehatan atau kembali ke alam, tetapi makanan organik perlahan semakin popular walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.

Memang, membicarakan pertanian organik ini tidak akan bisa melepaskan peranan Pater Agatho Elsener. Ia adalah biarawan Swiss yang mewarisi perusahaan pisau terkenal dari Swiss, Victorinox. Dialah yang mengembangkan pertanian organik di kawasan Tugu, Puncak -sejak tahun 1983- saat kegiatan seperti ini masih kurang populer, bahkan masa itu masih dikuasai arogansi sistem pertanian "modern" dengan intensifikasi penggunaan bahan-bahan sintetis. Untuk lingkungan, pertanian organik dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan karena dia mengambil apa yang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam seraya menjaga keragaman hayati karena tidak perlu membunuh makhluk hidup -apakah dia kutu atau serangga pemakan sayuran- secara berlebihan karena penggunaan musuh alami atau pestisida dari bahan tanaman sendiri.Dan apabila konsumen sekarang memilih makanan organik karena alasan kesehatan, itu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.

Dalam dunia konsumsi, sering kali terdengar ramalan bahwa barang konsumsi yang akan selalu unggul dan laku di pasaran adalah segala yang berkaitan dengan fashion, food (makanan), fun (kesenangan), dan health (kesehatan). Industri sering kali menyikapinya dengan kecerdikan tersendiri demi menggenggam benak konsumennya. Produk organik, misalnya, dengan mengusung gagasan kesehatan, secara berkesinambungan mulai tampak berhasil merebut benak masyarakat konsumsi, sekalipun harganya bisa begitu mahal.Beragam produk organik pertanian lokal saat ini marak meramaikan gerai-gerai penjualan di berbagai supermarket di kota-kota besar di Indonesia. Tak hanya sayuran dan buah-buahan, belakangan juga muncul ayam, telur kampung, dan susu organik. Produk organik tersebut mengklaim bebas pestisida, pupuk kimia, hormon pertumbuhan, dan benih transgenik. Sedangkan pestisida dan pupuk kimia, misalnya, diyakini menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk pencemaran lingkungan yang merusak ekosistem.

Namun, sering kali untuk sesuatu yang bermutu bisa dijustifikasi dengan harga mahal. Sementara menjadi sehat adalah hak setiap orang. Ucapan "ada mutu, ada harga" tidak selamanya tepat, terlebih untuk produk pertanian organik."Produk pertanian organik justru ongkos produksinya bisa jauh lebih rendah daripada produk pertanian konvensional sehingga harga tidak harus mahal," kata Herningsih Prihastuti, petani organik skala kecil di kawasan Puncak.Petani yang menjalankan pertanian organik tidak lagi perlu membeli pupuk kimia, pestisida, dan bibit. Pupuk organik diperoleh tidak harus dengan membeli, namun justru harus dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian. Sementara penanggulangan hama dilakukan dengan sistem polikultur, rotasi tanaman, dan ramuan pestisida alami. Bibit pun mereka peroleh dari hasil pertanian sendiri, bukan terpaksa harus membeli dari industri bibit. Jadi, nilai harga suatu produk bisa lebih dikontribusikan untuk petani atau petani penggarapnya.

Lalu mengapa produk pertanian organik lokal di toko swalayan bisa demikian mahal? Hal ini tidak terlepas dari rantai distribusi dari produsen hingga ke konsumen. Pihak perantara, yaitu pedagang, kerap menaikkan harga atas pertimbangan psikologi konsumen. Asumsinya, konsumen organik adalah pasar yang memiliki kesadaran kesehatan tinggi sehingga dianggap sudi merogoh kocek lebih dalam. Belum lagi pertimbangan gaya hidup yang bisa membuat harga dipatok suka-suka. Sayuran organik bisa dicirikan dari penampilannya yang bersahaja. Sayuran dan buah organik tidaklah berpenampilan mulus dan cemerlang warnanya. Bahkan tidak jarang, daun sayuran tampak bolong-bolong akibat termakan ulat. Namun, rupanya itulah ciri bahwa itu merupakan sayuran sehat. Perlu diingat, sayuran aeroponik dan hidroponik yang juga beredar di pasaran secara prinsip sangat berbeda dengan sayuran organik. Sayuran aeroponik misalnya, meski mengklaim bebas pestisida, namun produk tersebut tidak mengklaim bebas nutrisi kimia ataupun benih transgenik. Binatang, hama, juga ulat punya naluri tajam. Dia tidak mau sayuran yang beracun, yaitu berpestisida. Tetapi, justru manusia salah kaprah, manusia justru suka sayuran yang ulat saja tidak mau, yaitu yang berpestisida.

PRODUK organik sudah telanjur tercoreng sebagai produk eksklusif, katanya sayurannya orang kaya. Padahal, filosofinya produk organik itu sendiri sangat jauh dari itu. Untuk menyiasatinya, konsumen dapat mencari alternatif dengan memperoleh produk pertanian organik melalui komunitas organik. Sistem pemasaran produk organik seperti ini di Jepang disebut teikei. Hal ini sudah dilakukan sejak era tahun 1980-an oleh berbagai komunitas konsumen organik di Jakarta yang memasok dari Pertanian Organis Pater Agatho. Dalam seminggu, pihak produsen dari pertanian Agatho misalnya akan mengirimkan berbagai produk pertaniannya ke sejumlah "pemimpin" komunitas di berbagai wilayah di Jakarta. Kemudian, para anggota komunitas tersebut yang rumahnya satu kawasan akan datang mengambil pesanan mereka. Dengan cara seperti ini harga produk pertanian yang mereka peroleh bisa sangat murah, bahkan hingga mencapai 50 persen lebih rendah dari harga produk organik di supermarket. Hal yang sama juga diterapkan Herningsih. Selaku produsen, Herningsih kini memiliki delapan kelompok konsumen organik di wilayah Jabodetabek. Seminggu sekali setelah panen, Herningsih akan membawa turun hasil panennya dari Puncak ke rumahnya di Jakarta. Kemudian, para "pemimpin" kelompok konsumen akan datang ke rumah Herningsih untuk mengambil pesanan sayur dan buah dari para anggota kelompoknya. Para anggota kelompok itu lalu bisa mengambil pesanan mereka di rumah ketua kelompok.

Sistem harga yang diterapkan adalah harga flat, artinya tidak tergantung hukum ekonomi penawaran dan permintaan. Jadi, meski suplai sedang tipis, namun permintaan tinggi, harga produk tidak akan sontak melambung tinggi. Yang cukup mengherankan, betapa jauh rentang harga produk pertanian organik dengan sistem seperti ini. Brokoli organik bisa diperoleh dengan harga Rp 15.000- Rp 20.000 per kilo, sementara di toko swalayan harganya bisa mencapai Rp 70.000 per kilo. Dalam model pemasaran seperti ini, tercipta relasi yang khas antara konsumen dan petani selaku produsen. Prinsip kejujuran merupakan fundamental relasi tersebut. Pemasaran produk organik dengan cara seperti ini juga sangat terasa unsur sosialnya. Tidak sekadar demi kesehatan, komunitas konsumennya dan produsennya seolah punya filosofi yang sama dalam menghargai alam. Untuk mengetahui kredibilitas produk organik, sertifikasi bukanlah cara mutlak untuk saat ini, di mana petani-petani kecil yang bertani organik mulai bermunculan. Petani yang tulus menjalankan pertanian organik biasanya juga akan sangat transparan terhadap produknya.

Murjiyo, Petani Organik

Irma Tambunan

Murjiyo (63) sungguh tak menyangka. Dari usaha sederhana memurnikan lima kilogram benih padi menthik wangi, kini ratusan hektar lahan di berbagai daerah telah ditanami padi organik. Akhirnya, bumi kita dapat bernapas sedikit lebih lega.

Tahun 1980 merupakan tahun yang berat bagi Murjiyo, petani di Dusun Paten, Sumberagung, Jetis, Bantul, DIY. Didasari keinginan untuk menyelamatkan tanah, Murjiyo merombak kembali sistem olah tanam. Sistem baru ini ia namai ”kembali ke cara nenek moyang kita”.

Selama dua minggu menjelang masa tanam, ia membawa kotoran sapi basah, setumpuk jerami, dan dedaunan ke sawah, campuran itu diaduk pada lahan basah dengan bajak. Ia membajak sawah hingga dua tahapan sehingga campuran bahan-bahan tersebut berproses membusuk selama 14 hari.

Warga setempat sempat menyebut Murjiyo orang aneh karena memasukkan kotoran ternak dan jerami ke lahannya. Namun, ia hanya diam.

Lima kilogram padi menthik wangi, yang dibeli dari seorang petani di Sleman, ditanamnya pada lahan itu.

Hasil panen perdana memang tak sebanyak saat Murjiyo masih memanfaatkan pupuk urea. Pada keluasan satu hektar, hasilnya hanya empat ton gabah, atau 1,3 ton lebih sedikit dibanding hasil panen terdahulu.

Namun, pada masa tanam berikutnya, Murjiyo menyaksikan perubahan pada alam. Tanah yang merah dan keras itu berangsur lebih hitam dan lembut. ”Ahh... ini berarti kandungan humus di tanah mulai bertambah. Struktur tanah yang semula telah kembali,” ujarnya antusias.

Murjiyo makin semangat bertanam dengan bahan-bahan alami. Tak hanya kotoran sapi dan jerami, berbagai jenis tumbuhan lain pun dibawanya ke sawah sebagai racikan pupuk alami. ”Saya sampai dibilang gila karena membawa segala macam tumbuhan ke sawah, seperti orang yang putus asa karena hasil panennya hanya sedikit,” ujarnya.

Menjelang tahun 1990 hasil panennya terus meningkat hingga 5,5 ton per hektar atau melampaui hasil panen anorganik saat itu yang rata-rata 5,3 ton per hektar. Bahkan, saat ini hasil panennya rata-rata 5,8 ton per hektar.

Mandiri

Hasil yang dicapai Murjiyo sedikit banyak menumbuhkan kesadaran di kalangan petani memperjuangkan hak kemandirian dan kemerdekaan petani, khususnya dalam menentukan nilai jual gabah. Menurut Murjiyo, petani organik berhasil melepaskan diri dari ketergantungan pada pasar. Kualitas gabah organik sangat baik sehingga petani memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap pembeli.

Meski saat ini harga beras organik semakin mahal, konsumen tidak berkurang. Harga beras rojolele sudah naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram.

Tak hanya pupuk, pembasmi hama dan penyakit dibuat dari tumbuhan dan kotoran hewan. Hingga kini, Murjiyo berhasil menciptakan 87 resep pembasmi hama dan penyakit, serta 16 resep pupuk kompos, pupuk cair, dan perangsang tumbuh. Semuanya berbahan alami dan dibantu proses pembusukan dengan biolahang, yaitu campuran air nira dan cacahan batang pisang.

Sebanyak 13 varietas benih padi organik jenis lokal juga berhasil dikumpulkan Murjiyo lewat pencarian ke berbagai daerah, antara lain rojolele, rening, dusel, andelabang, andelrantai, sampangantal, sirendah, jago, superwin, dan mayangsari.

Baru-baru ini wilayahnya ditanami 48 varietas benih padi organik lokal atas kerja sama dengan Retoe Boemi, beranggotakan para mahasiswa. Benih-benih ini lalu ditangkar dan sebagian hasilnya disebar ke petani lain untuk ditanami. Berbekal kerja sama dengan komunitas mahasiswa pertanian dan paguyuban petani pemandu, sebanyak 48 varietas padi lokal kini ditangkar di desanya.

”Januari nanti, koleksi padi lokal di sini akan bertambah 25 varietas lagi, didatangkan dari Kalimantan Barat,” tutur suami Legiyem (58), dan ayah dari Eko Purwadi (37), Rahmat Nurdianto (35), dan Didi Krismianto (33).

Berbagi

Di Bantul, setidaknya minimal 100 hektar lahan telah ditanami padi organik murni. Banyak petani, kalangan akademisi, maupun kalangan dinas pertanian dari luar daerah mendatanginya untuk studi banding.

Murjiyo tanpa enggan membagi benih padi dan resep pupuk dan pembasmi hama organik bagi siapa saja yang mau bertanam organik.

Sebagian lahan pertanian di Kalimantan Barat kini telah menerapkan pertanian organik. Begitu pula di wilayah Lampung, Sumatera Utara, Jombang, Trenggalek, Tulungagung, Kebumen, Lombok, Sragen, Sukoharjo, dan Karanganyar, mulai dikembangkan menjadi lahan yang dipulihkan. Mereka semua belajar dari Murjiyo dengan datang ke tempat petani itu atau mengundang dia ke tempat mereka.

Melalui upayanya menyelamatkan alam, Murjiyo mendapat juara pertama Kalpataru Provinsi DIY Tahun 2003, dan Peringkat 10 Tingkat Nasional Tahun 2004. Ia sendiri masih mengetuai Paguyuban Petani Penangkar Benih Provinsi DIY.

Katanya, jika kita bisa memulihkan kembali tanah yang subur seperti dahulu, kenapa tidak dilakukan. Dan, bumi pun akan bernapas sedikit lebih lega.