Kalau mau iseng-iseng mikir coba cari sebabnya kenapa produk pertanian di Indonesia, katakanlah beras, kalah bersaing alias kalah populer dibandingkan produk-produk lain terutama elektronik, seperti komputer. Memang kelihatannya kurang fair membandingkan dua produk ini tapi tak ada salahnya khan kalau sedikit kita usil.... .
Setahun yang lalu......katakanlah harga beras seliter Rp. 2000,-. Harga komputer katakanlah Rp. 5 Juta,-. Tapi yang terjadi setahun kemudian.......harga beras dengan 'nama' yang sama naik jadi Rp. 3000,- itu juga tidak semuanya beras...terkadang juga bercampur dengan batu, gabah dan binatang-binatang yang merayap di atasnya. Itu yang terjadi pada produk pertanian ...kalo pada komputer...?. Setahun berlalu.....dengan mengeluarkan uang yang sama besarnya, akan didapatkan komputer dengan mutu lebih baik, prosesor terbaru.....dan akan membuat orang menyesal keburu-buru pengen beli komputer tahun kemaren.
Ilustras di atas tentu saja bukan untuk mengejek produsen atau penjual beras (yang nakal) tapi sekedar untuk mengingatkan kenapa pertanian kita jadi amburadul begini. Inovasi.....alias terus-menerus melakukan perbaikan kayaknya belum sempat kita lakukan. Efiisiensi dalam kerja dan kegiatan produksi juga harus mulai kita pikirkan. Bagaimana kita mau berkompetisi kalau harga makin melambung sedangkan mutu makin merosot.....kalau yang namanya beli beras harus bilang 'Ga' pake Batu'.
Coba tengok tetangga kita Vietnam... . Tahun 70-an mereka masih sibuk perang....Amerika membungihanguskan bumi Vietnam. Kita di Indonesia.....dengan booming minyak saat itu.......Indonesia dapat dikatakan telah cukup makmur dibandingkan Vietnam. Tapi tunggu......itu dulu..... . Sekarang, bagaimana... ?. Sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Kalau dulu tahun 1980-an Indonesia dikatakan telah swasembada pangan (yang benar tidaknya saya juga kurang tahu), tapi sekarang......walah mak.....Indonesia mengimpor beras dari Vietnam......Indonesia menukar pesawat dengan beras dengan Thailand....untuk bikin tempe Indonesia masih saja mengimpor kedelai transgenik dari Amerika (yang satu bilang tempe bagus untuk kesehatan..yang satu bilang produk transgenik berbahaya bagi manusia) dan.....gula yang menjadi komoditas ekspor andalan Belanda yang kebanyakan jaman baheula alias jaman dulu berasal dari Indonesia....kini tinggal sejarah...karena Indonesia terus-menerus impor gula.
Kalau mau lebih jeli lagi bandingkan harga jeruk impor di supermarket dengan jeruk lokal. Dengan beban pajak dan ongkos kirim yang harus dipikul oleh buah impor.....namun harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan produk lokal. Gimana konsumen tidak tergiur..apalagi dengan bentuk dan warna yang menarik. Soal rasa....tidak perlu diragukan lagi.
Inovasi.....perbaikan terus-menerus untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi pertanian menjadi kuncinya. Nah...tinggal Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang punya kewenangan....punya keahlian.....mau tidak bersama-sama melakukannya... . Tidak usah mencari banyak orang untuk memulainya......saya sudah memulainya dengan mengangkat tangan untuk ikut bergabung...... Bagaimana dengan lain.....ada yang mau bergabung ?????....angkat tangan.........!!!!!!!. Nah.....gitu......dong ikutan angkat tangan.... . Loh...itu yang dibelakang kok ga ikutan angkat tangan ???. Oooohhhhh.....lagi sakit gigi ya.......he..he.he..boleh kok kalau mau lihat-lihat dulu....baru nanti ikut bergabung............... .
Ya...ya..ya...memang semuanya serba asal dan sedikit usil.....tapi kapan lagi kalau tidak sekarang dimulainya....benar tidak.... ????.
Minggu, 22 Februari 2009
Pandan Wangi dan Wangi Pandan
Butir-butir beras itu berbentuk bulat-panjang. Pada bagian tengah butir-butir beras itu terdapat titik kapur, yang berwarna keputihan. Bila dicium baunya terasa wangi, seperti bau pandan.
Butir-butir beras itu berbentuk bulat-panjang. Pada bagian tengah butir-butir beras itu terdapat titik kapur, yang berwarna keputihan. Bila dicium baunya terasa wangi, seperti bau pandan. Itulah beras Pandan Wangi, bukan wangi karena aroma daun pandan.
Di berbagai pusat perbelanjaan, pasar beras tradisional hingga toko-toko hampir dipastikan menjual beras Pandan Wangi. Di pusat perbelanjaan bahkan kerap kita jumpai beras dengan label "Pandan Wangi". Ada pula yang mengklaim Pandan Wangi yang mereka jual asli produksi Cianjur, Jawa Barat.
Jika Anda ingin membeli beras Pandan Wangi, sudahkah Anda tahu ciri-cirinya? Benarkah beras Pandan Wangi atau karuhun (warisan nenek moyang) yang dijual itu asli dari Cianjur, atau jangan-jangan beras oplosan yang diberi aroma pandan.
Yang dimaksud beras Pandan Wangi oplosan adalah beras Pandan Wangi yang dicampur beras lain yang memiliki ciri fisik sama atau bahkan berbeda sama sekali, tetapi kualitasnya lebih rendah. Persentase beras Pandan Wangi hanya 15-40 persen. Dengan begitu keuntungan yang diperoleh pedagang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan menjual beras asli Pandan Wangi.
Butir-butir beras itu berbentuk bulat-panjang. Pada bagian tengah butir-butir beras itu terdapat titik kapur, yang berwarna keputihan. Bila dicium baunya terasa wangi, seperti bau pandan. Itulah beras Pandan Wangi, bukan wangi karena aroma daun pandan.
Di berbagai pusat perbelanjaan, pasar beras tradisional hingga toko-toko hampir dipastikan menjual beras Pandan Wangi. Di pusat perbelanjaan bahkan kerap kita jumpai beras dengan label "Pandan Wangi". Ada pula yang mengklaim Pandan Wangi yang mereka jual asli produksi Cianjur, Jawa Barat.
Jika Anda ingin membeli beras Pandan Wangi, sudahkah Anda tahu ciri-cirinya? Benarkah beras Pandan Wangi atau karuhun (warisan nenek moyang) yang dijual itu asli dari Cianjur, atau jangan-jangan beras oplosan yang diberi aroma pandan.
Yang dimaksud beras Pandan Wangi oplosan adalah beras Pandan Wangi yang dicampur beras lain yang memiliki ciri fisik sama atau bahkan berbeda sama sekali, tetapi kualitasnya lebih rendah. Persentase beras Pandan Wangi hanya 15-40 persen. Dengan begitu keuntungan yang diperoleh pedagang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan menjual beras asli Pandan Wangi.
RAHASIA BERAS
Beras adalah makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia.
Dalam susunan makanan penduduk Indonesia , sebagian besar
kebutuhan akan protein (80%)dipenuhi oleh protein yang
berasal dari beras. Pada kenyataannya daerah yang
penduduknya meggunakan bahan makanan lain sebagai makanan
pokok, kadar zat putih telur dalam makanan mereka sangat
rendah, sehingga sering mengakibatkan terjadinya pnyakit
busung lapar.
Beras, disamping kadar hidrat arang dan protein yang
dimilikinya tinggi juga mengandung unsur gizi lain, terutama
vitamin-vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B,
yaitu vitamin B1 dalam jumlah yang cukup. Akan tetapi kadar
vitamin ini tidak tetap karena tergantung pada cara
pengolahan beras tersebut sampai menjadi nasi. Kekurangan
vitamin B1 seperti inilah yang menimbulkan penyakit
beri-beri.
Vitamin B1 terutama terdapat pada bagian dalam kulit ari
beras. Kulit ari ini sering hilang pada proses penggilingan
beras maupun pada waktu pencucian ketika hendak dimasak.
Bila kulit ari ini hilang berarti vitamin B1 yang terkandung
di dalamnya juga hilang.. itulah sebabnya bila dipandang
dari segi gizi , beras tumbuk mempunyai nilai yang lebih
baik daripada beras yang digiling, meski beras giling
warnana lebih putih.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengahadapi kenyataan yang
berlawanan. Orang lebih menyukai beras yang putih daripada
beras yang berwarna kemerahan karena tidak digiling dengan
sempurna. Para pedagang dan pabrik-pabrik penggilingan beras
lebih senang untuk menggiling beras seputih mungkin, karena
beras ini dalam dunia penggilingan mempunyai harga yang jauh
lebih tinggi . Di beberapa negara bagian seperti India,
Philipina dan lain-lain, diusahakan suatu cara guna
mempertahankan kadar vitamin B1 dalam beras agar tidak
hilang saat digiling dan dicuci. Sebelumnya beras tersebut
diolah sedemikian rupa sehingga semua vitamin B1 yang ada di
dalamnya dapat merasuk ke dalam butir-butir beras. Dengan
demikian meski kulit ari beras hilang, vitamin B1 nya masih
tetap ada di dalam butiran beras.
Telah disebutkan di atas bahwa beras yang kita makan
sehari-hari telah kehilangan sebagian besar kandungan
gizinya, maka kita perlu mengkonsumsi tepung mata beras
merah . Tepung mata beras merah diolah dengan teknologi
modern, sehingga semua kandungan gizi yang ada pada beras
tidak hilang. Yang dimaksud dengan beras merah di sini
bukanlah beras yang berwarna merah, melainkan beras yang
belum di slip , jadi masih ada kulit ari dan mata padinya.
Beras merah mengandung tiga bagian utama yaitu, kulit beras
berserat, mata padi dan bagian isi beras. Bagian mata padi
dan kulit beras berserat mengandung banyak jenis vitamin ,
sedang kandungan utama dari isi beras adalah karbohidrat.
Mata padi dan serbuk beras mengandung zat makanan yang
paling penting untuk peumbuhan yang sehat bagi setiap
individu. Menurut laporan FDA (Food and Drug Association,
sebuah lembaga yang mengurusi makanan dan obat-obatan di
USA), kandungan mata padi tiap 10 gram adalah ; putih telur
(3g), lemak (1,2g), vitamin B1,B2 dan B3 (2,5 g), vitamin E
(1,8 g), vitamin C (50mg), vitamin A (50 mg), besi 20 mcg,
magnesium (15 mcg) dan fosfor (15 mcg).
Manfaat Tepung Mata Beras yang telah teruji antara lain :
1. Menghaluskan kulit yang kasar
2. Menyembuhkan asma
3. Menyembuhkan kadar gula darah yang tinggi
4. Meningkatkan stamina
5. Mengatasi insomnia (susah tidur)
6. Mengatasi kaki tangan yang dingin
7. Menyembuhkan sembelit
8. Membantu memperbaiki pencernakan
9. Membantu pencegahan terhadap sel kanker
10. Sebagai makanan alami program diet
11. Membantu menyembuhkan wasir
Demikianlah sekelumit catatan tentang beras dan rahasia yang
terkandung di dalamnya, yang bahkan kita sendiri pun kadang
tidak menduga kelebihan manfaatnya. Semoga tulisan ini
bermanfaat bagi anda yang membacanya, sebagaimana
orang-orang yang telah merasakan manfaat dari Tepung Mata
Beras.
Ditulis kembali oleh mhmd_thoriq@... dari divisi
komunikasi FYI Pusat Jakarta
Dalam susunan makanan penduduk Indonesia , sebagian besar
kebutuhan akan protein (80%)dipenuhi oleh protein yang
berasal dari beras. Pada kenyataannya daerah yang
penduduknya meggunakan bahan makanan lain sebagai makanan
pokok, kadar zat putih telur dalam makanan mereka sangat
rendah, sehingga sering mengakibatkan terjadinya pnyakit
busung lapar.
Beras, disamping kadar hidrat arang dan protein yang
dimilikinya tinggi juga mengandung unsur gizi lain, terutama
vitamin-vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B,
yaitu vitamin B1 dalam jumlah yang cukup. Akan tetapi kadar
vitamin ini tidak tetap karena tergantung pada cara
pengolahan beras tersebut sampai menjadi nasi. Kekurangan
vitamin B1 seperti inilah yang menimbulkan penyakit
beri-beri.
Vitamin B1 terutama terdapat pada bagian dalam kulit ari
beras. Kulit ari ini sering hilang pada proses penggilingan
beras maupun pada waktu pencucian ketika hendak dimasak.
Bila kulit ari ini hilang berarti vitamin B1 yang terkandung
di dalamnya juga hilang.. itulah sebabnya bila dipandang
dari segi gizi , beras tumbuk mempunyai nilai yang lebih
baik daripada beras yang digiling, meski beras giling
warnana lebih putih.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengahadapi kenyataan yang
berlawanan. Orang lebih menyukai beras yang putih daripada
beras yang berwarna kemerahan karena tidak digiling dengan
sempurna. Para pedagang dan pabrik-pabrik penggilingan beras
lebih senang untuk menggiling beras seputih mungkin, karena
beras ini dalam dunia penggilingan mempunyai harga yang jauh
lebih tinggi . Di beberapa negara bagian seperti India,
Philipina dan lain-lain, diusahakan suatu cara guna
mempertahankan kadar vitamin B1 dalam beras agar tidak
hilang saat digiling dan dicuci. Sebelumnya beras tersebut
diolah sedemikian rupa sehingga semua vitamin B1 yang ada di
dalamnya dapat merasuk ke dalam butir-butir beras. Dengan
demikian meski kulit ari beras hilang, vitamin B1 nya masih
tetap ada di dalam butiran beras.
Telah disebutkan di atas bahwa beras yang kita makan
sehari-hari telah kehilangan sebagian besar kandungan
gizinya, maka kita perlu mengkonsumsi tepung mata beras
merah . Tepung mata beras merah diolah dengan teknologi
modern, sehingga semua kandungan gizi yang ada pada beras
tidak hilang. Yang dimaksud dengan beras merah di sini
bukanlah beras yang berwarna merah, melainkan beras yang
belum di slip , jadi masih ada kulit ari dan mata padinya.
Beras merah mengandung tiga bagian utama yaitu, kulit beras
berserat, mata padi dan bagian isi beras. Bagian mata padi
dan kulit beras berserat mengandung banyak jenis vitamin ,
sedang kandungan utama dari isi beras adalah karbohidrat.
Mata padi dan serbuk beras mengandung zat makanan yang
paling penting untuk peumbuhan yang sehat bagi setiap
individu. Menurut laporan FDA (Food and Drug Association,
sebuah lembaga yang mengurusi makanan dan obat-obatan di
USA), kandungan mata padi tiap 10 gram adalah ; putih telur
(3g), lemak (1,2g), vitamin B1,B2 dan B3 (2,5 g), vitamin E
(1,8 g), vitamin C (50mg), vitamin A (50 mg), besi 20 mcg,
magnesium (15 mcg) dan fosfor (15 mcg).
Manfaat Tepung Mata Beras yang telah teruji antara lain :
1. Menghaluskan kulit yang kasar
2. Menyembuhkan asma
3. Menyembuhkan kadar gula darah yang tinggi
4. Meningkatkan stamina
5. Mengatasi insomnia (susah tidur)
6. Mengatasi kaki tangan yang dingin
7. Menyembuhkan sembelit
8. Membantu memperbaiki pencernakan
9. Membantu pencegahan terhadap sel kanker
10. Sebagai makanan alami program diet
11. Membantu menyembuhkan wasir
Demikianlah sekelumit catatan tentang beras dan rahasia yang
terkandung di dalamnya, yang bahkan kita sendiri pun kadang
tidak menduga kelebihan manfaatnya. Semoga tulisan ini
bermanfaat bagi anda yang membacanya, sebagaimana
orang-orang yang telah merasakan manfaat dari Tepung Mata
Beras.
Ditulis kembali oleh mhmd_thoriq@... dari divisi
komunikasi FYI Pusat Jakarta
Rabu, 28 Januari 2009
BERAS ORGANIK HIJAU
Adalah beras yang dihasilkan dari proses budidaya secara alami tradisional dengan mempertimbangkan keseimbangan alam.
PROSES PENGELOLAAN
TAHAPAN BUDIDAYA
1. IDENTIFIKASI POTENSI EKOSISTEM
2. PENGOLAHAN LAHAN
3. PEMBENIHAN
4. PENGELOLAAN PUPUK
5. PROSES BUDIDAYA
6. PENGELOLAAN HASIL
Pengolahan Lahan
1. Pengolahan lahan dengan memperhatikan prinsip Ekologi Tanah dan Ekosistem di dalam tanah.
2. Pemupukan dengan pupuk alami ( kompos, kotoran ternak, atau bahan organik yang ada disekitar kita).
PEMBENIHAN
1. Benih diperoleh dari benih unggul lokal.
2. Benih dihasilkan dari Sekolah Lapang Pembenihan.
PENGELOLAAN PUPUK
1. Pupuk diperoleh dari proses pengomposan, kotoran ternak dan pupuk hijau.
2. Penggunaan pupuk alami 20 ton / ha.
3. Diberikan pada fase pembibitan dan fase pertumbuhan tanaman dilahan.
PROSES BUDIDAYA
a. Proses Budidaya :
Pembudidayaan dengan menerapkan prinsip-prinsip Sekolah Lapang PHT.
Pengobatan alami dapat diterapkan sebagai pilihan akhir.
b. Proses Panen :
Panen dilakukan secara cermat dibedakan antara panenan untuk benih dan untuk konsumsi, untuk benih lebih tua 7 hari dari untuk konsumsi.
Tanda panen untuk konsumsi bulir telah menguning 80%-90% (remegap).
Pengelolaan Hasil Panen
1. Penjemuran : dijemur 3 kali dengan ketebalan 2 -3 cm, menggunakan alas dan didapat kadar air gabah maks. 15%.
2. Penyimpanan : Penyimpanan diberi alas setinggi 0.5 m dari dasar lantai.
3. Penggilingan : Sebelum digiling dijemur selama 2 jam, sehingga beras yang dihasilkan utuh dengan kadar air 10% - 12%.
4. Prosesing beras : Beras disaring dan diblower, sehingga menghasilkan beras yang bersih dengan kadar menir maks. 7%.
5. Packing : Beras dikemas dalam kemasan 5 kg, 2 kg, 25 kg atau sesuai permintaan konsumen.
6. Beras dijamin sehat tanpa pengawet dan bahan pemutih
PROSES PENGELOLAAN
TAHAPAN BUDIDAYA
1. IDENTIFIKASI POTENSI EKOSISTEM
2. PENGOLAHAN LAHAN
3. PEMBENIHAN
4. PENGELOLAAN PUPUK
5. PROSES BUDIDAYA
6. PENGELOLAAN HASIL
Pengolahan Lahan
1. Pengolahan lahan dengan memperhatikan prinsip Ekologi Tanah dan Ekosistem di dalam tanah.
2. Pemupukan dengan pupuk alami ( kompos, kotoran ternak, atau bahan organik yang ada disekitar kita).
PEMBENIHAN
1. Benih diperoleh dari benih unggul lokal.
2. Benih dihasilkan dari Sekolah Lapang Pembenihan.
PENGELOLAAN PUPUK
1. Pupuk diperoleh dari proses pengomposan, kotoran ternak dan pupuk hijau.
2. Penggunaan pupuk alami 20 ton / ha.
3. Diberikan pada fase pembibitan dan fase pertumbuhan tanaman dilahan.
PROSES BUDIDAYA
a. Proses Budidaya :
Pembudidayaan dengan menerapkan prinsip-prinsip Sekolah Lapang PHT.
Pengobatan alami dapat diterapkan sebagai pilihan akhir.
b. Proses Panen :
Panen dilakukan secara cermat dibedakan antara panenan untuk benih dan untuk konsumsi, untuk benih lebih tua 7 hari dari untuk konsumsi.
Tanda panen untuk konsumsi bulir telah menguning 80%-90% (remegap).
Pengelolaan Hasil Panen
1. Penjemuran : dijemur 3 kali dengan ketebalan 2 -3 cm, menggunakan alas dan didapat kadar air gabah maks. 15%.
2. Penyimpanan : Penyimpanan diberi alas setinggi 0.5 m dari dasar lantai.
3. Penggilingan : Sebelum digiling dijemur selama 2 jam, sehingga beras yang dihasilkan utuh dengan kadar air 10% - 12%.
4. Prosesing beras : Beras disaring dan diblower, sehingga menghasilkan beras yang bersih dengan kadar menir maks. 7%.
5. Packing : Beras dikemas dalam kemasan 5 kg, 2 kg, 25 kg atau sesuai permintaan konsumen.
6. Beras dijamin sehat tanpa pengawet dan bahan pemutih
Prinsip-prinsip Pertanian Organik There are no translations available.
Prakata
Kelompok tani dampingan lesman yand berada di 3 kabupaten selama ini mengembangkan budidaya pertanian dengan Prinsip-prinsip pertanian organik atau alami. Hal ini dilakukan oleh kelompok tani dampingan lesman untuk mengembangkan pinsip-prinsip dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan pertanian organik. Prinsip-prinsip dasar ini berisi tentang sumbangan yang dapat diberikan pertanian organik bagi dunia, dan merupakan sebuah visi untuk meningkatkan keseluruhan aspek pertanian secara global. Pertanian merupakan salah satu kegiatan paling mendasar bagi manusia, karena semua orang perlu makan setiap hari. Nilai-nilai sejarah, budaya dan komunitas menyatu dalam pertanian. Prinsip-prinsip ini diterapkan dalam pertanian dengan pengertian luas, termasuk bagaimana manusia memelihara tanah, air, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan, mempersiapkan dan menyalurkan pangan dan produk lainnya. Prinsip-prinsip tersebut menyangkut bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan hidup, berhubungan satu sama lain dan menentukan warisan untuk generasi mendatang.
Prinsip-prinsip tersebut mengilhami gerakan organik dengan segala keberagamannya. Prinsip-prinsip ini menjadi panduan bagi pengembangan posisi, program dan standar-standar IFOAM. Selanjutnya, prinsip-prinsip ini diwujudkan dalam visi yang digunakan di seluruh dunia.
Pertanian organik didasarkan pada:
Prinsip kesehatan
Prinsip ekologi
Prinsip keadilan
Prinsip perlindungan
Setiap prinsip dinyatakan melalui suatu pernyataan disertai dengan penjelasannya. Prinsip-prinsip ini harus digunakan secara menyeluruh dan dibuat sebagai prinsip-prinsip etis yang mengilhami tindakan.
Prinsip Kesehatan
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia.
Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan. Hal ini tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh, keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju sehat.
Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di dalam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan. Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.
Prinsip Ekologi
Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan.
Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan.
Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam.
Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, membangun habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produk-produk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.
Prinsip Keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain.
Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen.
Pertanian organik harus memberikan kualitas hidup yang baik bagi setiap orang yang terlibat, menyumbang bagi kedaulatan pangan dan pengurangan kemiskinan. Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan kecukupan dan ketersediaan pangan maupun produk lainnya dengan kualitas yang baik.
Prinsip keadilan juga menekankan bahwa ternak harus dipelihara dalam kondisi dan habitat yang sesuai dengan sifat-sifat fisik, alamiah dan terjamin kesejahteraannya.
Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya.
Prinsip Perlindungan
Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.
Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal maupun eksternal. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya. Karenanya, teknologi baru dan metode-metode yang sudah ada perlu dikaji dan ditinjau ulang. Maka, harus ada penanganan atas pemahaman ekosistem dan pertanian yang tidak utuh.
Prinsip ini menyatakan bahwa pencegahan dan tanggung jawab merupakan hal mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi di pertanian organik. Ilmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkungan. Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidaklah cukup. Seiring waktu, pengalaman praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan tradisional menjadi solusi tepat. Pertanian organik harus mampu mencegah terjadinya resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika (genetic engineering). Segala keputusan harus mempertimbangkan nilai-nilai dan kebutuhan dari semua aspek yang mungkin dapat terkena dampaknya, melalui proses-proses yang transparan dan partisipatif.
Kelompok tani dampingan lesman yand berada di 3 kabupaten selama ini mengembangkan budidaya pertanian dengan Prinsip-prinsip pertanian organik atau alami. Hal ini dilakukan oleh kelompok tani dampingan lesman untuk mengembangkan pinsip-prinsip dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan pertanian organik. Prinsip-prinsip dasar ini berisi tentang sumbangan yang dapat diberikan pertanian organik bagi dunia, dan merupakan sebuah visi untuk meningkatkan keseluruhan aspek pertanian secara global. Pertanian merupakan salah satu kegiatan paling mendasar bagi manusia, karena semua orang perlu makan setiap hari. Nilai-nilai sejarah, budaya dan komunitas menyatu dalam pertanian. Prinsip-prinsip ini diterapkan dalam pertanian dengan pengertian luas, termasuk bagaimana manusia memelihara tanah, air, tanaman, dan hewan untuk menghasilkan, mempersiapkan dan menyalurkan pangan dan produk lainnya. Prinsip-prinsip tersebut menyangkut bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan hidup, berhubungan satu sama lain dan menentukan warisan untuk generasi mendatang.
Prinsip-prinsip tersebut mengilhami gerakan organik dengan segala keberagamannya. Prinsip-prinsip ini menjadi panduan bagi pengembangan posisi, program dan standar-standar IFOAM. Selanjutnya, prinsip-prinsip ini diwujudkan dalam visi yang digunakan di seluruh dunia.
Pertanian organik didasarkan pada:
Prinsip kesehatan
Prinsip ekologi
Prinsip keadilan
Prinsip perlindungan
Setiap prinsip dinyatakan melalui suatu pernyataan disertai dengan penjelasannya. Prinsip-prinsip ini harus digunakan secara menyeluruh dan dibuat sebagai prinsip-prinsip etis yang mengilhami tindakan.
Prinsip Kesehatan
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia.
Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan. Hal ini tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh, keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju sehat.
Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di dalam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan. Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.
Prinsip Ekologi
Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan.
Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan.
Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam.
Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, membangun habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produk-produk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.
Prinsip Keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain.
Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen.
Pertanian organik harus memberikan kualitas hidup yang baik bagi setiap orang yang terlibat, menyumbang bagi kedaulatan pangan dan pengurangan kemiskinan. Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan kecukupan dan ketersediaan pangan maupun produk lainnya dengan kualitas yang baik.
Prinsip keadilan juga menekankan bahwa ternak harus dipelihara dalam kondisi dan habitat yang sesuai dengan sifat-sifat fisik, alamiah dan terjamin kesejahteraannya.
Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya.
Prinsip Perlindungan
Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.
Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal maupun eksternal. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya. Karenanya, teknologi baru dan metode-metode yang sudah ada perlu dikaji dan ditinjau ulang. Maka, harus ada penanganan atas pemahaman ekosistem dan pertanian yang tidak utuh.
Prinsip ini menyatakan bahwa pencegahan dan tanggung jawab merupakan hal mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi di pertanian organik. Ilmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkungan. Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidaklah cukup. Seiring waktu, pengalaman praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan tradisional menjadi solusi tepat. Pertanian organik harus mampu mencegah terjadinya resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika (genetic engineering). Segala keputusan harus mempertimbangkan nilai-nilai dan kebutuhan dari semua aspek yang mungkin dapat terkena dampaknya, melalui proses-proses yang transparan dan partisipatif.
Pertanian Berkelanjutan adalah Masa Depan Kita
Sabtu, 03-01-2009 07:28:23 oleh: Mediansyah
Kanal: Iptek
Setiap musim tanam selalu saja petani kita “berteriak” memelas karena pupuk langka. Sering pula hama yang ada berubah makin ganas dan menjadi kebal terhadap “obat” pertanian yang ada. Kemudian, walaupun ada sebagian petani dengan bercocok tanam secara organik, namun ternyata pupuk organik sulit didapat dan tergantung juga pada produsen pupuk (organik). Ketiga hal ini paling tidak menunjukkan bahwa pola pertanian kita masih jauh dari standar berkelanjutan.
Ada beberapa definisi yang menjelaskan batasan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Secara garis besar Zamor (1995) mengemukakan kriteria sistem pertanian berkelanjutan, yakni:
Keberlanjutan Secara Ekonomi
Pola pertanian yang dikembangkan bisa menjamin infestasi dalam bentuk tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan petani, dan hasil yang didapat petani mencukupi kebutuhan keluarganya secara layak. Keberlanjutan ekonomi berarti juga meminimalkan atau bahkan meniadakan biaya eksternal dalam proses produksi pertanian.
Dalam poin keberlanjutan ekonomi ini, masih banyak terlihat bahwa petani (dan pertanian) kita belum sustain secara ekonomi dalam pengelolaan pertaniannya. Sebagai contoh, di lapangan penulis banyak menjumpai petani yang harus (terus-menerus) berutang menjelang musim tanam (untuk biaya produksi dan alat). Ketergantungan petani atas input dari luar (terutama pupuk dan pestisida) adalah bukti paling nyata.
Jadi kita harus memulai (saat ini juga) memperkenalkan kepada para petani kita beberapa alternatif model pertanian, semisal LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture). Dimana dengan LEISA ini kemandirian petani lebih terjamin, selain itu juga ramah lingkungan. Di beberapa tempat lain, system pertanian hutan-tani (agroforestry) justru dapat menjadi jalan keluar.
Keberlanjutan Ekologi
Keberlanjutan ekologis adalah upaya mengembangkan agroekosistem agar memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kurun waktu yang lama melalui pengelolaan terpadu untuk memelihara dan mendorong peningkatan fungsi sumber daya alam yang ada. Pengembangan sistem juga berorientasi pada keragaman hayati (biodiversity).
Praktik-praktik budidaya tanaman yang menyebabkan dampak negatif pada lingkungan harus di hindari. Penulis menjumpai di lapangan, bahwa petani sering menyemprot pestisida pabrikan walaupun tidak ada hama. Seolah ada ketakutan yang dalam jika tidak disemprot pastilah akan kena serangan hama. Tanaman melon di Kab Sukoharjo Jateng misalnya, sejak menjelang berbunga hingga menjelang panen, dapat di semprot dengan pestisida hingga tiga kali sehari oleh petani.
Saking akrabnya petani dengan pola asal semprot-semprot ini ditunjukkan dengan kebiasaan mereka menyebut pestisida sebagai obat. Padahal pestisida adalah racun (pest=hama sida=racun) bukan obat. Bahkan banyak pula petugas penyuluh yang menyebut pestisida sebagai obat. Padahal sudah banyak ulasan tentang bahaya residu pestisida terhadap petani, lingkungan dan konsumen.
Hal lain, kebiasaan menyemprot pestisida secara over-dosis ini dapat menyebabkan tumbuhnya kekebalan pada hama yang selamat. Sehingga generasi hama berikutnya tidak lagi mempan disemprot dengan dosis yang sama, atau pestisida yang sama. Di lapangan dijumpai kebiasaan petani meng-oplos berbagai merk pestisida untuk mendapatkan hasil yang lebih ampuh (dalam banyak kasus, justeru penyuluh pertanianlah yang mengajarkan petani akan perihal berbahaya ini).
Selain berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan, syarat mutlak sistem pertanian berkelanjutan adalah keadilan sosial, dan kesesuaian dengan budaya lokal. Yakni penghargaan martabat dan hak asasi individu serta kelompok untuk mendapat perlakuan adil. Misalnya adanya perlindungan yang lebih tegas atas hak petani dalam penguasaan lahan, benih dan teknologi lokal yang sering “dibajak” oleh kaum pemodal.
Sistem yang harus dibangun juga menyediakan fasilitas untuk mengakses informasi, pasar dan sumberdaya yang terkait pertanian. Hal mana harus menjamin “harga keringat petani” untuk mendapat nilai tukar yang layak, untuk kesejahteraan keluarga tani dan keberlanjutan modal usaha tani.
Khususnya akses atas lahan harus kembali dievaluasi dalam rangka menegakkan keadilan, dengan tanpa membedakan jenis kelamin, posisi sosial, agama dan etnis. Contoh adanya ketimpangan keadilan adalah (dalam konvensi di Indonesia?) bila si istri melakukan transaksi hak atas tanah, oleh Notaris akan dimintakan surat kuasa dari suaminya.
Sementara itu, budaya pertanian lokal sering kali dilecehkan. Misalnya, sistem ladang berpindah orang Dayak sering dituduh merusak lingkungan (yang benar, orang Dayak menggilirkan lahan secara berputar/siklus, bukan berladang berpindah-pindah). Padahal sistem itu justeru melestarikan lingkungan dan sudah teruji berabad-abad. Namun kebiasaan orang Dayak menggulirkan siklus lahan ini dijadikan kambing hitam atas dosa lingkungan dari jaringan penjarah kayu serta penjarah hutan hak ulayat suku.
Praktik Pertanian Berkelanjutan
Sebenarnya, dalam ekosistem terdapat komponen biotik, baik flora maupun fauna yang menyediakan jasa ekologi seperti: Proses dekomposisi bahan organik (daur ulang unsur hara) guna mempertahankan kesuburan tanah. Alam juga telah menyediakan pengatur dan pengendali populasi hama dan penyebab penyakit tanaman. Kemudian, alam menyediakan proses penyerbukan oleh serangga/hewan penyerbuk yang menjaga keberlanjutan reproduksi tanaman.
Kesemua hal di atas itu (anggota penyusun komponen biotik) berinteraksi sesuai proses evolusi ekosistem. Apabila satu komponen hilang akan timbul goncangan ekologi yang ditandai pelonjakan salah satu komponen (misal hama), atau proses perkembangan ekosistem berjalan tidak normal (Misal: karena input pestisida dan pupuk kimia yang ngawur, tanah menjadi tidak gembur karena kehilangan mikroba pengurai).
Indikator sukses
Selama ini indikator sukses pertanian kita adalah sekadar jumlah atau hasil produksi pertanian, untuk memenuhi permintaan pasar. Dalam pertanian berkelanjutan, tujuan yang ingin dicapai bukanlah sekadar target produksi jangka pendek, tetapi lebih ditekankan pada upaya keberlanjutan sistem produksi jangka panjang.
Sehingga inovasi yang dilakukan, dalam pertanian berkelanjutan adalah dalam rangka peningkatan secara optimal proses-proses biologi dan ekologi dalam ekosistem.
Untuk inilah, kini saatnya (terutama) para penyuluh pertanian untuk mengajari petani kita (yang sudah lupa) cara-cara mengembangkan kesuburan tanah, prinsip pengendalian hama alami dan pengoptimalisasi peran musuh alami, pengelolaan tanaman (memilih jenis, pola tanam, mengatur waktu tanam yang tepat) guna memanipulasi interaksi musim-tanaman-hama.
Hal lain, harus dipikirkan pula pengembangan jenis-jenis kultiva tanaman yang tidak rakus pupuk dan relative tahan terhadap hama dan penyakit. Pengembangan varietas unggul lokal (yang sudah beradaptasi sesuai dengan kondisi setempat) perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan bibit unggul spesifik lokasi.
Kiranya, masih ada harapan di Indonesia, untuk mempertahankan keberadaan ekosistem pertanian, memelihara potensinya untuk jangka waktu lama, tidak berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan, akan dapat memberi keuntungan terus-menerus (jangka panjang dan turun temurun) pula.
Daftar Pustaka:
Blake, F. 1994. Oerganic farming growing. The Crowood Press Ltd. Wiltshire. U.K.
Fukuoka, M. 1991. Revolusi Sebatang Jerami: Sebuah Pengantar Menuju Pertanian Alami (Terjemahan S. Hardjosoediro), yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Zamor,O.B. 1995. Contextualizing the Indicators of Sustainable Agriculture. Working Paper on The Sustainable Agriculture Indicator Workshop on May 30, 1995. SEAMO Regional Centre for Graduade Study and Research in Agriculture.
Kanal: Iptek
Setiap musim tanam selalu saja petani kita “berteriak” memelas karena pupuk langka. Sering pula hama yang ada berubah makin ganas dan menjadi kebal terhadap “obat” pertanian yang ada. Kemudian, walaupun ada sebagian petani dengan bercocok tanam secara organik, namun ternyata pupuk organik sulit didapat dan tergantung juga pada produsen pupuk (organik). Ketiga hal ini paling tidak menunjukkan bahwa pola pertanian kita masih jauh dari standar berkelanjutan.
Ada beberapa definisi yang menjelaskan batasan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Secara garis besar Zamor (1995) mengemukakan kriteria sistem pertanian berkelanjutan, yakni:
Keberlanjutan Secara Ekonomi
Pola pertanian yang dikembangkan bisa menjamin infestasi dalam bentuk tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan petani, dan hasil yang didapat petani mencukupi kebutuhan keluarganya secara layak. Keberlanjutan ekonomi berarti juga meminimalkan atau bahkan meniadakan biaya eksternal dalam proses produksi pertanian.
Dalam poin keberlanjutan ekonomi ini, masih banyak terlihat bahwa petani (dan pertanian) kita belum sustain secara ekonomi dalam pengelolaan pertaniannya. Sebagai contoh, di lapangan penulis banyak menjumpai petani yang harus (terus-menerus) berutang menjelang musim tanam (untuk biaya produksi dan alat). Ketergantungan petani atas input dari luar (terutama pupuk dan pestisida) adalah bukti paling nyata.
Jadi kita harus memulai (saat ini juga) memperkenalkan kepada para petani kita beberapa alternatif model pertanian, semisal LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture). Dimana dengan LEISA ini kemandirian petani lebih terjamin, selain itu juga ramah lingkungan. Di beberapa tempat lain, system pertanian hutan-tani (agroforestry) justru dapat menjadi jalan keluar.
Keberlanjutan Ekologi
Keberlanjutan ekologis adalah upaya mengembangkan agroekosistem agar memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kurun waktu yang lama melalui pengelolaan terpadu untuk memelihara dan mendorong peningkatan fungsi sumber daya alam yang ada. Pengembangan sistem juga berorientasi pada keragaman hayati (biodiversity).
Praktik-praktik budidaya tanaman yang menyebabkan dampak negatif pada lingkungan harus di hindari. Penulis menjumpai di lapangan, bahwa petani sering menyemprot pestisida pabrikan walaupun tidak ada hama. Seolah ada ketakutan yang dalam jika tidak disemprot pastilah akan kena serangan hama. Tanaman melon di Kab Sukoharjo Jateng misalnya, sejak menjelang berbunga hingga menjelang panen, dapat di semprot dengan pestisida hingga tiga kali sehari oleh petani.
Saking akrabnya petani dengan pola asal semprot-semprot ini ditunjukkan dengan kebiasaan mereka menyebut pestisida sebagai obat. Padahal pestisida adalah racun (pest=hama sida=racun) bukan obat. Bahkan banyak pula petugas penyuluh yang menyebut pestisida sebagai obat. Padahal sudah banyak ulasan tentang bahaya residu pestisida terhadap petani, lingkungan dan konsumen.
Hal lain, kebiasaan menyemprot pestisida secara over-dosis ini dapat menyebabkan tumbuhnya kekebalan pada hama yang selamat. Sehingga generasi hama berikutnya tidak lagi mempan disemprot dengan dosis yang sama, atau pestisida yang sama. Di lapangan dijumpai kebiasaan petani meng-oplos berbagai merk pestisida untuk mendapatkan hasil yang lebih ampuh (dalam banyak kasus, justeru penyuluh pertanianlah yang mengajarkan petani akan perihal berbahaya ini).
Selain berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan, syarat mutlak sistem pertanian berkelanjutan adalah keadilan sosial, dan kesesuaian dengan budaya lokal. Yakni penghargaan martabat dan hak asasi individu serta kelompok untuk mendapat perlakuan adil. Misalnya adanya perlindungan yang lebih tegas atas hak petani dalam penguasaan lahan, benih dan teknologi lokal yang sering “dibajak” oleh kaum pemodal.
Sistem yang harus dibangun juga menyediakan fasilitas untuk mengakses informasi, pasar dan sumberdaya yang terkait pertanian. Hal mana harus menjamin “harga keringat petani” untuk mendapat nilai tukar yang layak, untuk kesejahteraan keluarga tani dan keberlanjutan modal usaha tani.
Khususnya akses atas lahan harus kembali dievaluasi dalam rangka menegakkan keadilan, dengan tanpa membedakan jenis kelamin, posisi sosial, agama dan etnis. Contoh adanya ketimpangan keadilan adalah (dalam konvensi di Indonesia?) bila si istri melakukan transaksi hak atas tanah, oleh Notaris akan dimintakan surat kuasa dari suaminya.
Sementara itu, budaya pertanian lokal sering kali dilecehkan. Misalnya, sistem ladang berpindah orang Dayak sering dituduh merusak lingkungan (yang benar, orang Dayak menggilirkan lahan secara berputar/siklus, bukan berladang berpindah-pindah). Padahal sistem itu justeru melestarikan lingkungan dan sudah teruji berabad-abad. Namun kebiasaan orang Dayak menggulirkan siklus lahan ini dijadikan kambing hitam atas dosa lingkungan dari jaringan penjarah kayu serta penjarah hutan hak ulayat suku.
Praktik Pertanian Berkelanjutan
Sebenarnya, dalam ekosistem terdapat komponen biotik, baik flora maupun fauna yang menyediakan jasa ekologi seperti: Proses dekomposisi bahan organik (daur ulang unsur hara) guna mempertahankan kesuburan tanah. Alam juga telah menyediakan pengatur dan pengendali populasi hama dan penyebab penyakit tanaman. Kemudian, alam menyediakan proses penyerbukan oleh serangga/hewan penyerbuk yang menjaga keberlanjutan reproduksi tanaman.
Kesemua hal di atas itu (anggota penyusun komponen biotik) berinteraksi sesuai proses evolusi ekosistem. Apabila satu komponen hilang akan timbul goncangan ekologi yang ditandai pelonjakan salah satu komponen (misal hama), atau proses perkembangan ekosistem berjalan tidak normal (Misal: karena input pestisida dan pupuk kimia yang ngawur, tanah menjadi tidak gembur karena kehilangan mikroba pengurai).
Indikator sukses
Selama ini indikator sukses pertanian kita adalah sekadar jumlah atau hasil produksi pertanian, untuk memenuhi permintaan pasar. Dalam pertanian berkelanjutan, tujuan yang ingin dicapai bukanlah sekadar target produksi jangka pendek, tetapi lebih ditekankan pada upaya keberlanjutan sistem produksi jangka panjang.
Sehingga inovasi yang dilakukan, dalam pertanian berkelanjutan adalah dalam rangka peningkatan secara optimal proses-proses biologi dan ekologi dalam ekosistem.
Untuk inilah, kini saatnya (terutama) para penyuluh pertanian untuk mengajari petani kita (yang sudah lupa) cara-cara mengembangkan kesuburan tanah, prinsip pengendalian hama alami dan pengoptimalisasi peran musuh alami, pengelolaan tanaman (memilih jenis, pola tanam, mengatur waktu tanam yang tepat) guna memanipulasi interaksi musim-tanaman-hama.
Hal lain, harus dipikirkan pula pengembangan jenis-jenis kultiva tanaman yang tidak rakus pupuk dan relative tahan terhadap hama dan penyakit. Pengembangan varietas unggul lokal (yang sudah beradaptasi sesuai dengan kondisi setempat) perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan bibit unggul spesifik lokasi.
Kiranya, masih ada harapan di Indonesia, untuk mempertahankan keberadaan ekosistem pertanian, memelihara potensinya untuk jangka waktu lama, tidak berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan, akan dapat memberi keuntungan terus-menerus (jangka panjang dan turun temurun) pula.
Daftar Pustaka:
Blake, F. 1994. Oerganic farming growing. The Crowood Press Ltd. Wiltshire. U.K.
Fukuoka, M. 1991. Revolusi Sebatang Jerami: Sebuah Pengantar Menuju Pertanian Alami (Terjemahan S. Hardjosoediro), yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Zamor,O.B. 1995. Contextualizing the Indicators of Sustainable Agriculture. Working Paper on The Sustainable Agriculture Indicator Workshop on May 30, 1995. SEAMO Regional Centre for Graduade Study and Research in Agriculture.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN
Oleh :
Made Suwena
G.361020041
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usaha-usaha pokok yang dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian sesuai dengan wawasan yang telah digariskan, antara lain adalah diversifikasi, ekstensifikasi, dan intensifikasi
Dalam melaksakan usaha-usaha tersebut seringkali dijumpai beberapa kendala, misalnya dalam diversifikasi terbatasannya ketersediaan karbohidrat dalam bentuk siap saji, baik dalam bentuk macam hidangan yang diolah, harga yang dapat dijangkau masyarakat maupun sebagai bahan industri. Hal ini terjadi karena dewasa ini orientasi pangan masyarakat masih betitik berat pada beras. Usaha ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian dihadapkan pada semakin berkurangnya lahan-lahan produktif dari tahun ketahun akibat dari pemanfaatan lahan untuk keperluan non pertanian, seperti untuk perumahan, industri perkantoran dan sebagainya. Sedangkan usaha intensifikasi sering mengalami kendala, akibat dari penerapan paket teknologi yang kurang tepat dalam penggunaan pupuk kimia dan pestisida dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis anjuran, sehingga dapat menurunkan efesiensi usahatani dan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
Dalam usaha intensifikas, anggapan petani bahwa penggunaan bahan kimia buatan baik pupuk maupun pestisida adalah satu-satunya alat yang dapat meningkatan produksi pertanian sangatlah berbahaya, karena bagaimanapun juga bahan-bahan kimia ini dapat merusak ekosistem pertanian. Menurut Muntoyoh (1994), pupuk kimia dan pestisida pada kenyataannya memang dapat meningkatkan produksi pertanian. Namun hal ini hanya berlangsung dalam jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang bahan-bahan tersebut dapat menurunkan produksi pertanian baik secara kualitas mapun kuantitas. Dampak yang lebih parah adalah mengakibatkan kerusakan pada tanah hingga tidak dapat lagi dipergunakan untuk kehidupan tanaman sebagai akibat dari akumulasi residu kimia di dalam tanah, serta timbulnya hama dan penyakit baru yang menyerang tanaman.
Dalam kaitannya dengan efesiensi usahatani dan menanggulangi bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia tersebut, dewasa ini banyak ahli pertanian mencoba menerapkan kembali prinsip-prinsip pertanian alami yang pernah diterapkan oleh nenek moyang dahulu yang dikenal dengan cara bertani akrab lingkungan.
Petanian akrab lingkungan (Natural Farming) adalah suatu cara bertani yang tidak merusak ekosistem alami untuk menghasilkan produk pertanian yang sehat dan cara berkesinambungan, tanpa atau dengan mengurangi penggunan pestisida, pupuk kimia dan zat-zat kimia lainnya. Pandangan dari cara bertani ini adalah sistematis dengan tujuan untuk mengenal jaringan yang berfungsi yang terdapat didalamnya. Dengan demikian, dalam menilai kondisi ekologis tidak hanya skala ekologis yang berlaku akan tetapi hubungan antara manusia dan alam yang sifatnya normatif – kultural, hiegenis – medis, politis dan teknologis haruslah diperhitungkan dalam tingkat yang sama (Egger, 1987).
Organissasi yang bergerak dalam pertanian yang berwawasan lingkungan dikenal dengan berbagai nama, diantaranya dikenal dengan : pertanian organik, pertanian alternatif, pertanian biaya rendah, pertanian berkelanjutan, pertanian terpadu, pertanian akrab lingkungan (Wididana, 1994), low sustainable agriculture atau yang lebih dikenal dengan LISA (Silitonga, 1994), bertani selaras alam (ekofarming)
Produktivitas dapat diartikan sebagai suatu keluaran dari setiap produk persatuan (baik satuan total maupun tambahan) terhadap setiap masukan atau faktor produksi tertentu, misalnya sebagai hasil per satuan benih, tenaga kerja, atau air selain terhadap satuan luas lahan (Hildebran, 1987).
B. Permasalahan
Peningkatan input energi seperti pupuk kimia, pestisida maupun bahan-bahan kimia lainnya dalam pertanian dengan tanpa melihat kompleksitas lingkungan disamping membutuhkan biaya usahatani yang tinggi, juga merupakan penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan. Penggunaan pupuk dan pestisida di luar kontrol akan dapat merusak tanah dan tolerannya suatu jenis hama dan penyakit tertentu terhadap pestisida disamping juga dapat menghilangkan jenis predator dan parasitoid yang bermanfaat. Bahan-bahan kimia tersebut dapat tetap tinggal sebagai residu pada hasil tanaman, tanah tercuci ke dalam air sungai akibatnya dapat berbahaya bagi kehidupan manusia maupun hewan. Di lain pihak, lahan pertanian produktif semakin sempit akibat dimanfaatkan untuk keperluan non pertanian.
Dari uraian di atas, maka dapat diketahui permasalahan-permasalahan yang ada dan akan muncul dalam usaha peningkatan produksi pertanian selama ini, yaitu dintaranya :
1.Penggunaan paket teknologi seperti pupuk anorganik dan pestisida secara tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan, disamping dibutuhkan biaya usahatani yang tinggi.
2.Lahan pertanian produktif semakin sempit sementara pergeseran ke arah lahan marginal dibutuhkan penambahan paket teknologi yang khusus, yang berrti diperlukan kemampuan (skill) dan input yang lebih tinggi.
3.Sistem pertanian secara monokultur akibat terpaku pada usahatani padi menyebabkan terkuranya unsur-unsur hara tertentu yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanah, disamping juga kenutuhan keragaman pangan tidak terpenuhi.
Melihat permasalahan-permasalahan tersebut, guna mempertahankan dan meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, maka pengelaolaan sumberdaya secara efektif dari segi ekologi maupun ekonomi mutlak dilakukan. Pertanyaan yang timbul kiranya langkah-langkah apa saja yang mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut ?
C. Tujuan
Sehubungan dengan permasahan-permasalahan yang dihadapi dalam usaha pembangunan petanian yang berwawasan lingkunga, dikaitkan dengan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan dikemukan pada bab II berikut, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengkaji lebih jauh peluang-peluang yang mungkin dapat dilakukan dalam usaha meningkatkan produktivitas lahan dengan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan.
II. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Beberapa alternatif yang dapat dikemukakan dalam usaha peningkatan produktivitas lahan pertanian dengan sistem akrab lingkungan menurut Fukoka (1994), adalah tanpa pengolahan tanah, tanpa pupuk kimia, tanpa mengholangkan gulma dengan mengerjakan tanah atau dengan herbisida, dan tidak tergantung pada bahan-bahan kimia. Hal ini dapat dilakuan melalui penanaman secara tumpangsari, penggunaan biofertilizer, dan pemanfaatan bahan organik :
A. Bercocok Tanam Secara Tumpangsari
Bertani secara tumpangsari adalah penanaman dua atau lebih jenis tanaman sekaligus pada sebidang tanah yang sama dan pada hakekatnya merupakan usaha tani yang intensif berdasarkan pemanfaatan waktu dan ruang tumbuh (Andrews dan Kassam, 1979).
Intensifikasi dengan cara ini dapat meningkatkan hasil per satuan luas pahan persatuan waktu, mengurangi resiko kegagalan panen, serta meningkatkan produksi lahan, tenaga, waktu dan sumber usahatani yang tersedia selama satu musim tanam (Thahir dan Hatmadi, 1986).
Tumpangsari tanaman leguminosa dengan serelia merupakan suatu kombinasi yang telah umum dilakukan oleh petani. Menurut Trenbath (1976), penggunaan tanaman leguminosa seeprti kacang-kacangan sebagai tanaman sela dapat menguntungkan bagi tanaman pokok, karena banyak menghasilkan nitrogen, dapat memperbaiki struktur tanah serta dapat menekan tumbuhnya rumput-rumputan. Selanjutnya Lingga (1986) menyatakan, bintil-bintil akar yang umumnya erdapat pada tanaman leguminosa juka bersimbiose dengan tanaman lain mempunyai kemampuan mengikat unsur nitrogen dari udara bebas. Hal ini sangat menguntungkan, selain dapat menambah nitrogen dalam tanah juga dapat memenuhi kebutuhan nitrogen bagi tanaman lain (Munandar, 1984). Seperti diktahui, unsur nitrogen merupakan unsur makro yang paling menonjol diantara unsur-unsur yang diprlukan oleh tanaman. Menurut Gardner, Pearce dan Mitchell (1985) pertanian sangat tergantung pada nitrogen yang dihasilkan oleh organisme yang mampu menambat nitrogen untuk produksi tanaman budidaya.
Chapman dan Myers (1987) menyatakan bahwa hasil fiksasi nitrogen oleh legum dalam tumpangsari dapat tersedia bagi tanaman nono legum yang berada di sekitarnya selama musim pertumbuhannya. Pembususkan akar dan nodul erupakan hal penting dalam tranfer nitrogen, walaupun organ-organ tersebut umumnya mengandung hanya sebagian kecil dari total tanaman. Sebagai contoh, hanya 3 – 40 kg nitrogen per hektar mungkin yang terdapat dalam bintil akar legum yang ditumbuhkan di lapangan.
Selain keuntungan dalam bentuk kontribusi nitrogen yang dapat diberikan dalam penanaman secara tumpangsari, juga dapat mematahkan siklus hidup dari patgen atau hama tertentu melalui rotasi tanaman (Palaniappan, 1988). Dengan adanya rotasi tanaman berarti sumber makanan inang hama maupun penyakit menjadi tidak ada atau berkurang sehingga perkembangan dari organisme pengganggu tanaman tersebut menjadi terhambat (Alexander, 1977). Masih banyak keunggulan-keunggulan yang lain didapat dari penanaman secara tumpangsari seperti keanekaragaman hasil panen, efesiensi dalam tenaga, modal dan sebagainya.
B. Pemanfaatan Biofertilizer
Beberapa penelitian untuk menghasilkan teknologi yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan tanpa menggunakan pupuk kimia buatan telah banyak di lakukan. Salah satu teknologi yang saat ini dikembangkan adalaha pengelolaan hara terpadu yang mendukung pemupukan organik dan pemanfaatan biofertilizer.
Pengertian biofertilizer secara umum adalah pemanfaatan strain-strain unggul baik berupa sel hidup ataupun dalam bentuk laten dari mikroba penambat nitrogen (N), mikroba pelarut phosphat (P), atau mikroba perombak selulosa yang diberikan ke biji, tanah ataupun tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan jumlah mikroba dan mempercepat proses terjadinya hara bagi tanaman. Biofertilizer yang umum digunakan adalah effective microorganisms (EM), inokulum Rhizogin, Azotobacter, Pseudomonas, Bacillus, Trichoderma, dan VA Mycorrhiza. Pemanfaatan biofertilizer yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik dan organik memberikan prospek cukup baik untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas tanah (Prihatini, Kentjanasari, dan Sri Adiningsih, 1966).
Effective microorganisms (EM) merupakan salah satu jenis biofertolizer yang dikemas dalam larutan sebagai EM-3, EM-4, dan EM-5. Namun yang paling dikenal dikalangan petani adalah EM-4. EM-4 diformulasikan dalam bentuk cairan dengan warna coklat kekuning-kuningan, berbau asam mengandung 90% bakteri Lactobacillus sp dan tiga jenis mikroorganisme lainnya, yaitu bakteri fotosintetik, streptomyces sp, dan yeast (mikroorganisme fermentasi). Mikroorganisme tersebut dalam fase istirahat dan bila diaplikasikan dapat dengan cepat menjadi aktif merombak bahan organik dalam tanah. Hasil rombakan bahan organik tersebut berupa senyawa organik, antibiotik (alkohol dan asam laktat) vitamin (A dan C), dan polisakarida (Higa dan Wididana, 1994). Selain menghasilkan senyawa-senyawa organik tersebut, EM-4 juga dapat merangsang perkembangan dan pertumbuhan mikroorganisme lain yang menguntungkan seperti bakteri pengikat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, mikroorganisme yang bersifat antagonis terhadap patogen, serta dapat, menekan pertumbuhan jamur patagen tular tanah (Wididana dan Higa, 1993; Muntoyah, 1994).
Penggunaan effective microorganisms di dalam tanah hampir sama pengarunya dengan rotasi tanaman. Penerapan rotasi tanaman dapat memberikan kesempatan bagi mikrooganisme yang menguntungkan untuk beregenerasi sehingga dapat menekan mikroorganisme yang merugikan tanaamn. Dengan penambahan microorganisme kedalam tanah berarti pola tanam monokultur secara kontinyu dapat dilakukan tanpa mengakibatkan penurunan produksi tanaman (Higa, 1994)
Pencampuran bahan organik seperti pupuk kandang atau limbah rumah tangga dan limbah pertanian dengan EM-4 merupakan pupuk organik yang sangat efektif untuk meningkatkan produksi pertanian. Campuran ini disamping dapat sebagai starter mikroorganisme yang menguntungkan yang ada di dalam tanah juga dapat memberikan respon positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Wididana, Wigenasantana dan Higa, 1994)
C. Bahan Organik
Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sehingga unsur C merupakan penyususn utama dari bahan organik tersebut yang berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida. Melaui penambahan bahan organik, tanah yang mulanya berat menjadi berstruktur remah yang realtif lebih ringan. Infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat, sehingga aliran permukaan dan erosi dapat diperkecil, demikian pula aerasi tanah dapat lebih baik karena ruang pori bertambah akibat dari terbentuknya agregat (Sugito, Nuraini, dan Nurhayati). Bahan organik juga berfungsi sebagai bahan nutrisi bagi makro dan mikro fauna (Prihatini, Kentjanasari, dan Sri Adiningsih, 1996).Kondisi demikian ini pada akhirnya akan dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang diusahakan.
III. P E N U T U P
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam rangka usaha peningkatan produktivitas lahan melalui sitem bertani akrab lingkungan, masih banyak kiranya permasalahan-permasalahan yang berlum terungkap, sebagai contoh dalam penerapan sistem tumpangsari kejelian pemilihan antar jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan, kesesuain waktu tanam, jarak tanam, pola penanaman, populasi tanaman, dan sebagainya. Demikian halnya dengan penggunaan biofertilizer maupun bahan organik, ketepatan dosis, macam atau jenis biofertilizer atau bahan organik, dan waktu aplikasinya kesenuanya itu akan sangat berpengaruh terhadap hasil tanaman yang diusahakan, sehingga diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam.
Secara ringkas dapat dikemukakan kesimpulan dari tulisan ini, yaitu :
1.Pemanfaatan teknologi bahan-bahan kimia, seperti pupuk dan pestisida dapat menurunkan produktivitas lahan dan pencemaran lingkungan.
2.Usaha peningkatan produktivitas lahan yang berorientasi akrab lingkungan dapat ditempuh melalui perbaikan cara bercocok bertanam, diantaranya dengan cara tumpangsari, penggunaan biofertilizer, dan penggunaan pupuk organik.
Dari urain di atas diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir kita semua baik sebagai peneliti, petani, atau semua orang yang bergerak dalam bidang pertanian dan penyelamat lingkungan terutama terhadap aspek-aspek yang belum dikaji, sehingga akhirnya produksi pertanian terus dapat ditingkatkan dengan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
DAFTAR PUSATAKA
Alexander, M., 1977. Introduction to Soil Microbiology. Second Edition. Cornel University, USA
Andrews, D.J. and A.H. Kassam, 1976. The Importance of Multiple Cropping in Increasing World Food Supplies. Matthias Satelly (ed). Multiple Cropping American Society of Agronomy. Crop Science Society of America and Soil Science of America Inc. Visconsin.
Chapmen A.L. and R.J.K Myers, 1987. Nitrogen Contribution by Grain Legumes to Rice Growth in Rotation on the Cucunura Soil of the Ord Irigation Area West Australia. Aust. J.Exp.Agric (27): 155 – 163.
Eggar, K., 1987. Berbagai Cara dan Kemungkinan Pelaksanaan Ekofarming di Daerah Pegunungan Afrika Timur. Penyunting Joachim Metzner & N. Daldjoeni. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 211 – 260
Fukoka, M., 1994. Empat Azas Bertani Alami. Kyusei Nature Farming, 03 (2) : 42 – 46.
Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell, 1985. Physiology of Crop Plant. Iowa, State University Press.
Higa, T., 1994. Effective Microorganisms. Dimensi Baru dalam Kyusei Nature Farming, Jakarta.
Higa, T., dan G. N. Wididana,1994. Effective Microorganisms. Dimensi Baru dalam Kyusei Nature Farming. Tumbuh, Jakarta.
Hildebrand, P. E., 1987. Sistem Bertanam Tumpang Gilir ; Segi Ekonomi dan Agronomi Ekofarming. Penyunting Joachim Metzner & N. Daldjoeni. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 401 – 420
Lingga P., 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta
Munandar, R., 1984. Tanah dan Seluk Beluknya Bagi Pertanian. Sinar Baru, Bandung.
Muntoya, 1994. Menuju Pertanian Alami dengan Teknologi Effective Microorganisms. Tumbuh :24 – 26, Jakarta.
Palaniappan, S.P., 1988. Cropping System in The Tropic. Wiley Eastern Limited and and Tamil Nadu Agricultural university.
Prihatini, T., A. Kentjanasari dan J. Sri Adiningsih, 1996. Peningkatan Kesuburan Tanah Melalui Pemanfaatan Biofertilizer dan Bahan Organik. Makalah dsampaikan dalam Seminar Nasional Pengelolaan Tanah Masam Secara Biologi. Universitas Brawijaya, Malang.
Silitonga, C., 1994. LISA, sistem Pertanian Akrab. Buletin Kyusei Nature Farming 03 (2) : 69 - 70.
Sugito, Y., Nuraini, dan E. Nihayati, 1995. Sistem Pertanian Organik. Faperta. Unibra, Malang.
Thahir dan Hatmadi, 1985. Tumpang Gilir (Multiple Cropping). Direktorat Penyuluhan Pertanian Pasar Minggu, Jakarta.
Trenbath, B. R., 1976. Plant Interaction in Mixed Crop Communities. . Matthias Satelly (ed). Multiple Cropping American Society of Agronomy. Crop Science Society of America and Soil Science of America Inc. Visconsin.129 - 169
Wididana G.N, dan T. Higa, 1994. Effective of Microorganisms on The Growth and Production of Crop. Buletin Kyusei Nature Farming 03 (2) : 27 - 35.
Wididana G.N, dan T. Higa1994. Penuntun Bercocok Tanam Padi dengan Teknologi EM-4. PT. Songgolangit Persada, Jakarta
Wididana G.N, M. S Wigenasantana, dan T. Higa, 1994. Application of Effective Microorganisms (EM) and Bokashi onNatural Farming. Buletin Kyusei Nature Farming 03 (2) : 47 - 54.
Made Suwena
G.361020041
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usaha-usaha pokok yang dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian sesuai dengan wawasan yang telah digariskan, antara lain adalah diversifikasi, ekstensifikasi, dan intensifikasi
Dalam melaksakan usaha-usaha tersebut seringkali dijumpai beberapa kendala, misalnya dalam diversifikasi terbatasannya ketersediaan karbohidrat dalam bentuk siap saji, baik dalam bentuk macam hidangan yang diolah, harga yang dapat dijangkau masyarakat maupun sebagai bahan industri. Hal ini terjadi karena dewasa ini orientasi pangan masyarakat masih betitik berat pada beras. Usaha ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian dihadapkan pada semakin berkurangnya lahan-lahan produktif dari tahun ketahun akibat dari pemanfaatan lahan untuk keperluan non pertanian, seperti untuk perumahan, industri perkantoran dan sebagainya. Sedangkan usaha intensifikasi sering mengalami kendala, akibat dari penerapan paket teknologi yang kurang tepat dalam penggunaan pupuk kimia dan pestisida dengan dosis jauh lebih tinggi dari dosis anjuran, sehingga dapat menurunkan efesiensi usahatani dan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
Dalam usaha intensifikas, anggapan petani bahwa penggunaan bahan kimia buatan baik pupuk maupun pestisida adalah satu-satunya alat yang dapat meningkatan produksi pertanian sangatlah berbahaya, karena bagaimanapun juga bahan-bahan kimia ini dapat merusak ekosistem pertanian. Menurut Muntoyoh (1994), pupuk kimia dan pestisida pada kenyataannya memang dapat meningkatkan produksi pertanian. Namun hal ini hanya berlangsung dalam jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang bahan-bahan tersebut dapat menurunkan produksi pertanian baik secara kualitas mapun kuantitas. Dampak yang lebih parah adalah mengakibatkan kerusakan pada tanah hingga tidak dapat lagi dipergunakan untuk kehidupan tanaman sebagai akibat dari akumulasi residu kimia di dalam tanah, serta timbulnya hama dan penyakit baru yang menyerang tanaman.
Dalam kaitannya dengan efesiensi usahatani dan menanggulangi bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia tersebut, dewasa ini banyak ahli pertanian mencoba menerapkan kembali prinsip-prinsip pertanian alami yang pernah diterapkan oleh nenek moyang dahulu yang dikenal dengan cara bertani akrab lingkungan.
Petanian akrab lingkungan (Natural Farming) adalah suatu cara bertani yang tidak merusak ekosistem alami untuk menghasilkan produk pertanian yang sehat dan cara berkesinambungan, tanpa atau dengan mengurangi penggunan pestisida, pupuk kimia dan zat-zat kimia lainnya. Pandangan dari cara bertani ini adalah sistematis dengan tujuan untuk mengenal jaringan yang berfungsi yang terdapat didalamnya. Dengan demikian, dalam menilai kondisi ekologis tidak hanya skala ekologis yang berlaku akan tetapi hubungan antara manusia dan alam yang sifatnya normatif – kultural, hiegenis – medis, politis dan teknologis haruslah diperhitungkan dalam tingkat yang sama (Egger, 1987).
Organissasi yang bergerak dalam pertanian yang berwawasan lingkungan dikenal dengan berbagai nama, diantaranya dikenal dengan : pertanian organik, pertanian alternatif, pertanian biaya rendah, pertanian berkelanjutan, pertanian terpadu, pertanian akrab lingkungan (Wididana, 1994), low sustainable agriculture atau yang lebih dikenal dengan LISA (Silitonga, 1994), bertani selaras alam (ekofarming)
Produktivitas dapat diartikan sebagai suatu keluaran dari setiap produk persatuan (baik satuan total maupun tambahan) terhadap setiap masukan atau faktor produksi tertentu, misalnya sebagai hasil per satuan benih, tenaga kerja, atau air selain terhadap satuan luas lahan (Hildebran, 1987).
B. Permasalahan
Peningkatan input energi seperti pupuk kimia, pestisida maupun bahan-bahan kimia lainnya dalam pertanian dengan tanpa melihat kompleksitas lingkungan disamping membutuhkan biaya usahatani yang tinggi, juga merupakan penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan. Penggunaan pupuk dan pestisida di luar kontrol akan dapat merusak tanah dan tolerannya suatu jenis hama dan penyakit tertentu terhadap pestisida disamping juga dapat menghilangkan jenis predator dan parasitoid yang bermanfaat. Bahan-bahan kimia tersebut dapat tetap tinggal sebagai residu pada hasil tanaman, tanah tercuci ke dalam air sungai akibatnya dapat berbahaya bagi kehidupan manusia maupun hewan. Di lain pihak, lahan pertanian produktif semakin sempit akibat dimanfaatkan untuk keperluan non pertanian.
Dari uraian di atas, maka dapat diketahui permasalahan-permasalahan yang ada dan akan muncul dalam usaha peningkatan produksi pertanian selama ini, yaitu dintaranya :
1.Penggunaan paket teknologi seperti pupuk anorganik dan pestisida secara tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan, disamping dibutuhkan biaya usahatani yang tinggi.
2.Lahan pertanian produktif semakin sempit sementara pergeseran ke arah lahan marginal dibutuhkan penambahan paket teknologi yang khusus, yang berrti diperlukan kemampuan (skill) dan input yang lebih tinggi.
3.Sistem pertanian secara monokultur akibat terpaku pada usahatani padi menyebabkan terkuranya unsur-unsur hara tertentu yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanah, disamping juga kenutuhan keragaman pangan tidak terpenuhi.
Melihat permasalahan-permasalahan tersebut, guna mempertahankan dan meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, maka pengelaolaan sumberdaya secara efektif dari segi ekologi maupun ekonomi mutlak dilakukan. Pertanyaan yang timbul kiranya langkah-langkah apa saja yang mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut ?
C. Tujuan
Sehubungan dengan permasahan-permasalahan yang dihadapi dalam usaha pembangunan petanian yang berwawasan lingkunga, dikaitkan dengan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan dikemukan pada bab II berikut, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengkaji lebih jauh peluang-peluang yang mungkin dapat dilakukan dalam usaha meningkatkan produktivitas lahan dengan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan.
II. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Beberapa alternatif yang dapat dikemukakan dalam usaha peningkatan produktivitas lahan pertanian dengan sistem akrab lingkungan menurut Fukoka (1994), adalah tanpa pengolahan tanah, tanpa pupuk kimia, tanpa mengholangkan gulma dengan mengerjakan tanah atau dengan herbisida, dan tidak tergantung pada bahan-bahan kimia. Hal ini dapat dilakuan melalui penanaman secara tumpangsari, penggunaan biofertilizer, dan pemanfaatan bahan organik :
A. Bercocok Tanam Secara Tumpangsari
Bertani secara tumpangsari adalah penanaman dua atau lebih jenis tanaman sekaligus pada sebidang tanah yang sama dan pada hakekatnya merupakan usaha tani yang intensif berdasarkan pemanfaatan waktu dan ruang tumbuh (Andrews dan Kassam, 1979).
Intensifikasi dengan cara ini dapat meningkatkan hasil per satuan luas pahan persatuan waktu, mengurangi resiko kegagalan panen, serta meningkatkan produksi lahan, tenaga, waktu dan sumber usahatani yang tersedia selama satu musim tanam (Thahir dan Hatmadi, 1986).
Tumpangsari tanaman leguminosa dengan serelia merupakan suatu kombinasi yang telah umum dilakukan oleh petani. Menurut Trenbath (1976), penggunaan tanaman leguminosa seeprti kacang-kacangan sebagai tanaman sela dapat menguntungkan bagi tanaman pokok, karena banyak menghasilkan nitrogen, dapat memperbaiki struktur tanah serta dapat menekan tumbuhnya rumput-rumputan. Selanjutnya Lingga (1986) menyatakan, bintil-bintil akar yang umumnya erdapat pada tanaman leguminosa juka bersimbiose dengan tanaman lain mempunyai kemampuan mengikat unsur nitrogen dari udara bebas. Hal ini sangat menguntungkan, selain dapat menambah nitrogen dalam tanah juga dapat memenuhi kebutuhan nitrogen bagi tanaman lain (Munandar, 1984). Seperti diktahui, unsur nitrogen merupakan unsur makro yang paling menonjol diantara unsur-unsur yang diprlukan oleh tanaman. Menurut Gardner, Pearce dan Mitchell (1985) pertanian sangat tergantung pada nitrogen yang dihasilkan oleh organisme yang mampu menambat nitrogen untuk produksi tanaman budidaya.
Chapman dan Myers (1987) menyatakan bahwa hasil fiksasi nitrogen oleh legum dalam tumpangsari dapat tersedia bagi tanaman nono legum yang berada di sekitarnya selama musim pertumbuhannya. Pembususkan akar dan nodul erupakan hal penting dalam tranfer nitrogen, walaupun organ-organ tersebut umumnya mengandung hanya sebagian kecil dari total tanaman. Sebagai contoh, hanya 3 – 40 kg nitrogen per hektar mungkin yang terdapat dalam bintil akar legum yang ditumbuhkan di lapangan.
Selain keuntungan dalam bentuk kontribusi nitrogen yang dapat diberikan dalam penanaman secara tumpangsari, juga dapat mematahkan siklus hidup dari patgen atau hama tertentu melalui rotasi tanaman (Palaniappan, 1988). Dengan adanya rotasi tanaman berarti sumber makanan inang hama maupun penyakit menjadi tidak ada atau berkurang sehingga perkembangan dari organisme pengganggu tanaman tersebut menjadi terhambat (Alexander, 1977). Masih banyak keunggulan-keunggulan yang lain didapat dari penanaman secara tumpangsari seperti keanekaragaman hasil panen, efesiensi dalam tenaga, modal dan sebagainya.
B. Pemanfaatan Biofertilizer
Beberapa penelitian untuk menghasilkan teknologi yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan tanpa menggunakan pupuk kimia buatan telah banyak di lakukan. Salah satu teknologi yang saat ini dikembangkan adalaha pengelolaan hara terpadu yang mendukung pemupukan organik dan pemanfaatan biofertilizer.
Pengertian biofertilizer secara umum adalah pemanfaatan strain-strain unggul baik berupa sel hidup ataupun dalam bentuk laten dari mikroba penambat nitrogen (N), mikroba pelarut phosphat (P), atau mikroba perombak selulosa yang diberikan ke biji, tanah ataupun tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan jumlah mikroba dan mempercepat proses terjadinya hara bagi tanaman. Biofertilizer yang umum digunakan adalah effective microorganisms (EM), inokulum Rhizogin, Azotobacter, Pseudomonas, Bacillus, Trichoderma, dan VA Mycorrhiza. Pemanfaatan biofertilizer yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik dan organik memberikan prospek cukup baik untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas tanah (Prihatini, Kentjanasari, dan Sri Adiningsih, 1966).
Effective microorganisms (EM) merupakan salah satu jenis biofertolizer yang dikemas dalam larutan sebagai EM-3, EM-4, dan EM-5. Namun yang paling dikenal dikalangan petani adalah EM-4. EM-4 diformulasikan dalam bentuk cairan dengan warna coklat kekuning-kuningan, berbau asam mengandung 90% bakteri Lactobacillus sp dan tiga jenis mikroorganisme lainnya, yaitu bakteri fotosintetik, streptomyces sp, dan yeast (mikroorganisme fermentasi). Mikroorganisme tersebut dalam fase istirahat dan bila diaplikasikan dapat dengan cepat menjadi aktif merombak bahan organik dalam tanah. Hasil rombakan bahan organik tersebut berupa senyawa organik, antibiotik (alkohol dan asam laktat) vitamin (A dan C), dan polisakarida (Higa dan Wididana, 1994). Selain menghasilkan senyawa-senyawa organik tersebut, EM-4 juga dapat merangsang perkembangan dan pertumbuhan mikroorganisme lain yang menguntungkan seperti bakteri pengikat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, mikroorganisme yang bersifat antagonis terhadap patogen, serta dapat, menekan pertumbuhan jamur patagen tular tanah (Wididana dan Higa, 1993; Muntoyah, 1994).
Penggunaan effective microorganisms di dalam tanah hampir sama pengarunya dengan rotasi tanaman. Penerapan rotasi tanaman dapat memberikan kesempatan bagi mikrooganisme yang menguntungkan untuk beregenerasi sehingga dapat menekan mikroorganisme yang merugikan tanaamn. Dengan penambahan microorganisme kedalam tanah berarti pola tanam monokultur secara kontinyu dapat dilakukan tanpa mengakibatkan penurunan produksi tanaman (Higa, 1994)
Pencampuran bahan organik seperti pupuk kandang atau limbah rumah tangga dan limbah pertanian dengan EM-4 merupakan pupuk organik yang sangat efektif untuk meningkatkan produksi pertanian. Campuran ini disamping dapat sebagai starter mikroorganisme yang menguntungkan yang ada di dalam tanah juga dapat memberikan respon positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Wididana, Wigenasantana dan Higa, 1994)
C. Bahan Organik
Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sehingga unsur C merupakan penyususn utama dari bahan organik tersebut yang berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida. Melaui penambahan bahan organik, tanah yang mulanya berat menjadi berstruktur remah yang realtif lebih ringan. Infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat, sehingga aliran permukaan dan erosi dapat diperkecil, demikian pula aerasi tanah dapat lebih baik karena ruang pori bertambah akibat dari terbentuknya agregat (Sugito, Nuraini, dan Nurhayati). Bahan organik juga berfungsi sebagai bahan nutrisi bagi makro dan mikro fauna (Prihatini, Kentjanasari, dan Sri Adiningsih, 1996).Kondisi demikian ini pada akhirnya akan dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang diusahakan.
III. P E N U T U P
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam rangka usaha peningkatan produktivitas lahan melalui sitem bertani akrab lingkungan, masih banyak kiranya permasalahan-permasalahan yang berlum terungkap, sebagai contoh dalam penerapan sistem tumpangsari kejelian pemilihan antar jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan, kesesuain waktu tanam, jarak tanam, pola penanaman, populasi tanaman, dan sebagainya. Demikian halnya dengan penggunaan biofertilizer maupun bahan organik, ketepatan dosis, macam atau jenis biofertilizer atau bahan organik, dan waktu aplikasinya kesenuanya itu akan sangat berpengaruh terhadap hasil tanaman yang diusahakan, sehingga diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam.
Secara ringkas dapat dikemukakan kesimpulan dari tulisan ini, yaitu :
1.Pemanfaatan teknologi bahan-bahan kimia, seperti pupuk dan pestisida dapat menurunkan produktivitas lahan dan pencemaran lingkungan.
2.Usaha peningkatan produktivitas lahan yang berorientasi akrab lingkungan dapat ditempuh melalui perbaikan cara bercocok bertanam, diantaranya dengan cara tumpangsari, penggunaan biofertilizer, dan penggunaan pupuk organik.
Dari urain di atas diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir kita semua baik sebagai peneliti, petani, atau semua orang yang bergerak dalam bidang pertanian dan penyelamat lingkungan terutama terhadap aspek-aspek yang belum dikaji, sehingga akhirnya produksi pertanian terus dapat ditingkatkan dengan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
DAFTAR PUSATAKA
Alexander, M., 1977. Introduction to Soil Microbiology. Second Edition. Cornel University, USA
Andrews, D.J. and A.H. Kassam, 1976. The Importance of Multiple Cropping in Increasing World Food Supplies. Matthias Satelly (ed). Multiple Cropping American Society of Agronomy. Crop Science Society of America and Soil Science of America Inc. Visconsin.
Chapmen A.L. and R.J.K Myers, 1987. Nitrogen Contribution by Grain Legumes to Rice Growth in Rotation on the Cucunura Soil of the Ord Irigation Area West Australia. Aust. J.Exp.Agric (27): 155 – 163.
Eggar, K., 1987. Berbagai Cara dan Kemungkinan Pelaksanaan Ekofarming di Daerah Pegunungan Afrika Timur. Penyunting Joachim Metzner & N. Daldjoeni. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 211 – 260
Fukoka, M., 1994. Empat Azas Bertani Alami. Kyusei Nature Farming, 03 (2) : 42 – 46.
Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell, 1985. Physiology of Crop Plant. Iowa, State University Press.
Higa, T., 1994. Effective Microorganisms. Dimensi Baru dalam Kyusei Nature Farming, Jakarta.
Higa, T., dan G. N. Wididana,1994. Effective Microorganisms. Dimensi Baru dalam Kyusei Nature Farming. Tumbuh, Jakarta.
Hildebrand, P. E., 1987. Sistem Bertanam Tumpang Gilir ; Segi Ekonomi dan Agronomi Ekofarming. Penyunting Joachim Metzner & N. Daldjoeni. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 401 – 420
Lingga P., 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta
Munandar, R., 1984. Tanah dan Seluk Beluknya Bagi Pertanian. Sinar Baru, Bandung.
Muntoya, 1994. Menuju Pertanian Alami dengan Teknologi Effective Microorganisms. Tumbuh :24 – 26, Jakarta.
Palaniappan, S.P., 1988. Cropping System in The Tropic. Wiley Eastern Limited and and Tamil Nadu Agricultural university.
Prihatini, T., A. Kentjanasari dan J. Sri Adiningsih, 1996. Peningkatan Kesuburan Tanah Melalui Pemanfaatan Biofertilizer dan Bahan Organik. Makalah dsampaikan dalam Seminar Nasional Pengelolaan Tanah Masam Secara Biologi. Universitas Brawijaya, Malang.
Silitonga, C., 1994. LISA, sistem Pertanian Akrab. Buletin Kyusei Nature Farming 03 (2) : 69 - 70.
Sugito, Y., Nuraini, dan E. Nihayati, 1995. Sistem Pertanian Organik. Faperta. Unibra, Malang.
Thahir dan Hatmadi, 1985. Tumpang Gilir (Multiple Cropping). Direktorat Penyuluhan Pertanian Pasar Minggu, Jakarta.
Trenbath, B. R., 1976. Plant Interaction in Mixed Crop Communities. . Matthias Satelly (ed). Multiple Cropping American Society of Agronomy. Crop Science Society of America and Soil Science of America Inc. Visconsin.129 - 169
Wididana G.N, dan T. Higa, 1994. Effective of Microorganisms on The Growth and Production of Crop. Buletin Kyusei Nature Farming 03 (2) : 27 - 35.
Wididana G.N, dan T. Higa1994. Penuntun Bercocok Tanam Padi dengan Teknologi EM-4. PT. Songgolangit Persada, Jakarta
Wididana G.N, M. S Wigenasantana, dan T. Higa, 1994. Application of Effective Microorganisms (EM) and Bokashi onNatural Farming. Buletin Kyusei Nature Farming 03 (2) : 47 - 54.
Langganan:
Postingan (Atom)