Senin, 28 Juli 2008

PETANI ORGANIK

PENGALAMAN KELOMPOK PETANI ORGANIK

KELOMPOK TANI SEDYO LESTARI

Kelompok Tani Sedyo Lestari berawal dari sekelompok anggota masyarakat yang tergabung dalam kelompok belajar paket B (Kejar Paket B) di Dusun Ngruno, Pengasih, Kulon Progo yang diselenggarakan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo. Jumlah peserta kelompok belajar ada 25 orang dan telah dinyatakan lulus semua.Peserta sebanyak 25 orang tersebut kemudian bergabung dalam program lanjutan dari kelompok belajar. Mereka bergabung dalam kelompok tani dengan kegiatan mengadakan pertemuan rutin dan arisan. Pada tahun 2002 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) memiliki program life skill bagi tamatan Kejar Paket B.Program life skill dilaksanakan bersama LSM Bina Insan Mandiri Kulon Progo sebagai lembaga mitra pendamping. Program life skill ini berjudul pemanfaatan lahan kosong. Program dilaksanakan di pekarangan Kantor Dinas Pendidikan Kulon Progo dengan fokus kegiatan: budi daya tanaman obat makuta dewa.Kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan kelompok yang dilaksanakan oleh Bina Insan Mandiri yang lebih menekankan pada pertanian berwawasan lingkungan. Kegiatan diawali dengan sosialisasi budi daya tanaman makuto dewa yang saat ini sedang dikembangkan oleh Bina Insan Mandiri di Kabupaten Kulon Progo.Peluang usaha tani makuta dewa, menurut pengalaman, dapat memberi tambahan pendapatan bagi masyarakat. Hasil pendampingan banyak membuka wawasan para anggota untuk lebih menekuni pertanian berwawasan lingkungan, di mana kegiatan tersebut menjadi tumpuan mata pencaharian anggota kelompok.Pengalaman lapanganPetugas rutin Bina Insan Mandiri memberi banyak motivasi bagi kelompok dan mengawali dengan penanaman makuta dewa di lahan pekarangan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar). Pendampingan selanjutnya dilakukan di kelompok secara rutin dengan materi pelatihan di antaranya: pembuatan kompos dan obat alami (pestisida alami – Red).Hasil pelatihan pembuatan kompos telah memberikan banyak manfaat bagi kelompok, yaitu produksi kompos. Kompos telah laku dijual, di samping dipergunakan bagi kepentingan sendiri. Hasil penjualan setiap dua minggu sebanyak 2.000 kg x Rp 300 = Rp 600.000. Untuk obat alami kurang banyak digunakan mengingat tanaman keras yang berada dilingkungan masyarakat tidak banyak terkena hama tanaman.Pengerjaan lahan pekarangan dilakukan dalam kelompok kerja. Setiap kelompok ada lima orang anggota. Setiap kelompok bergiliran mengerjakan lahan dua hari sekali. Setiap kelompok secara bergiliran berkewajiban merawat tanaman. Segala peralatan yang dipergunakan untuk kegiatan pertanian disediakan oleh SKB.Bina Insan Mandiri di samping memberikan pendampingan rutin kepada kelompok, banyak memberikan ilmu pengetahuan tentang pertanian dan memfasilitasi dalam menjalin kerja sama dengan petani lestari lainnya. Dengan mengikuti berbagai pelatihan dan seminar tentang pertanian berwawasan lingkungan, wawasan anggota kelompok semakin luas dan berkembang.Pemanfaatan lahan kosong di Dinas Pendidikan Kulon Progo telah dikerjakan di masing-masing anggota kelompok. Pertanian yang kami lakukan sebagai hasil pendampingan menjadikan pola pertanian kami dapat menekan dan menghemat biaya operasional petani. Harapan kami dari pertemuan dengan sesama petani ini akan diperoleh banyak ilmu pengetahuan pertanian yang dapat dikembangkan ke kelompok tani.Sukarjo, anggota Kelompok Tani Sedyo Lestari, Dusun Ngruno, Karangsari, Pengasih, Kulon Progo, DI Yogyakara.(Catatan Redaksi: tulisan diambil dari buku “Belajar dari Petani. Kumpulan Pengalaman Bertani Organik,” editor Wangsit St dan Daniel Supriyana, diterbitkan oleh SPTN-HPS – Lesmana – Mitra Tani)



KELOMPOK TANI KEMBANG LESTARI

Pertanian Lestari di Dusun Kembangkerep
oleh: St. Muharjo

Dusun Kembangkerep terletak di Desa Srihardono, Kec. Pundong, Bantul, berjarak 20 km arah selatan kota Yogyakarta. Sebagian besar penduduknya hidup dari bertani dengan luas kepemilikan rata-rata seperempat hektar per KK dan masih tetap menggunakan sistem pranata mangsa (kalender jawa) dalam kegiatan usaha taninya.
Dalam setahun, dusun yang memiliki irigasi semi teknis yang sumber airnya diambil dari Sungai Opak yang berjarak sekitar 5 km ini, para petaninya menerapkan pola padipadi-palawija. Jenis palawija yang paling cocok ditanam di wilayah ini adalah kedelai. Jauhnya sumber air untuk irigasi memang mengharuskan mereka untuk selalu gotong-royong setiap minggu agar bisa mendapatkan air. Gotong royong ini mereka lakukan sebanyak empat kali untuk setiap musim tanam padi.
Dulu, sebelum tahun 1990 seluruh petani di dusun yang memiliki ketinggian 74 meter dari permukaan laut ini menerapkan pertanian konvensional. Di mana penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat intensif. Kini, berkat keuletan seorang petani bernama Muharjo, sebagian petani di dusun tersebut sudah mulai meninggalkan pola bertani yang merusak lingkungan.

Gerakan Pertanian Lestari

Pada bulan Oktober tahun 1990, Muharjo, mengikuti seminar tentang “Pertanian dan Pedesaan”. Seminar diselenggarakan oleh Gregorius Utomo Pr., seorang Pastor di wilayah Ganjuran, Bantul, yang sangat peduli dengan petani. Seminar ini antara lain membicarakan tentang kepedulian terhadap tanah yang telah menjadi “bantat” karena penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan. Sepulang dari seminar tersebut, Pak Muharjo, demikian panggilan akrabnya, mengajak para petani di dusunnya untuk membuat kompos yang selanjutnya diterapkan pada tanaman padi di lahan percobaannya (demplot) seluas 1500 m2. Dengan kerja keras dan semangat yang tinggi, Pak Muharjo akhirnya dapat membuktikan kepada tetangganya bahwa penggunaan kompos (bahan organik, red) tersebut bisa menghasilkan padi yang bagus. Keberhasilan ini ternyata telah menjadi pemacu semangat petani lainnya untuk mengikuti jejak Pak Muharjo.
Keinginan petani berusia 55 tahun ini untuk mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan atau Pertanian Lestari muncul pada tahun yang sama. Kala itu ia mengamati pelaksanaan Supra Insus melalui paket kredit usaha tani, yang dirasakannya kurang membantu petani dalam mengembangkan usaha taninya. Maka ia pun tergerak untuk menggalakkan Pertanian Lestari di dusunnya. Usahanya ini tidak berjalan mulus. Banyak pihak yang menganggap pertanian yang diterapkannya saat itu adalah pertanian yang mundur, kembali ke model kuno, karena menggunakan pupuk kandang, pupuk hijau, benih local yang sudah tidak lazim digunakan petani. Namun, dengan sabar Pak Muharjo tetap memberikan pemahaman dan penyadaran kepada masyarakat mengenai tujuan dari gerakan tani lestari ini dengan harapan masyarakat mengetahui manfaatnya terhadap kesuburan tanah dan keberlanjutan usaha tani.
Seperti diketahui bahwa hasil pertanian konvensional yang menggunakan pestisida kimia, telah meracuni bahan pangan. Dan, dengan gerakan ini petani bisa mandiri atau tidak tergantung lagi dengan pihak luar. Selain dengan cara tadi, ia juga memperlihatkan contoh nyata bagaimana hasil yang dicapai dengan Pertanian Lestari ini. Singkatnya, walaupun berbagai hambatan menerpa dirinya, ia pantang mundur. Bersama petani lainnya yang seide dengan dirinya, ia tetap menerapkan apa yang diyakininya tersebut.
Keinginannya untuk menyelamatkan lingkungan, menjaga kesehatan dan menegakkan keadilan dalam perdagangan guna memperbaiki kondisi ekonomi petani, juga telah mendorongnya untuk membentuk wadah perjuangan yang diberi nama Paguyuban Tani Kembang Lestari. Paguyuban yang beranggotakan 31 petani lakilaki dan 5 orang perempuan ini memiliki tujuan utama untuk memperjuangkan tani lestari.

Manfaat yang Diperoleh

Ketertarikan petani anggota Paguyuban Tani Kembang Lestari untuk beralih dari pertanian yang konvensional menuju Pertanian Lestari dikarenakan oleh adanya bukti bahwa bertani organik bisa menjaga kesuburan tanah. “Penggunaan kompos, pupuk kandang dan pupuk hijau terbukti mampu menyembuhkan sakit ‘tanah bantat’ yaitu tanah keras, liat dan sulit untuk dicangkul. Tanah yang diberikan kompos akan menjadi gembur dan kandungan unsur haranya lebih awet
tersimpan di tanah sampai musim tanam berikutnya.” kata Pak Muharjo.
Ada satu pengalaman menarik yang dialami oleh Paguyuban Tani Kembang Lestari. Pada tahun 1996, petani mencoba menanam padi varietas mentik putih seluas 1000 m2. Saat menjelang panen terjadi serangan hama wereng cokelat. Hampir sebagian besar lahan yang ada di sekitarnya terserang hama tersebut. Namun areal milik petani Kembang Lestari tidak terserang sedikit pun. Selain tahan wereng, tanaman padi yang ditanam dengan cara organik ini juga menghasilkan beras yang cukup banyak, yaitu dari satu kilogram gabah bisa diperoleh 65% beras. Sedangkan padi nonorganik hanya sekitar 62% saja.
Manfaat lain yang dirasakan oleh paguyuban adalah harga beras organik jauh lebih tinggi dibandingkan harga beras nonorganik. Pada umumnya beras dijual dengan harga sekitar Rp 3500 per kg, namun beras organik bisa mencapai Rp 5500 per kg (jenis mentik putih).
Menurut Sartono, salah seorang anggota paguyuban, bahwa model pertanian lestari ini mengkondisikan petani menjadi mandiri dalam menentukan pola budidayanya, tidak lagi tergantung dan serba diatur oleh pihak luar. Varietas padi lokal yang dulu sempat punah kini sudah banyak yang dibudidayakan kembali oleh petani yaitu mentik wangi, mentik putih, mentik biasa, pandan wangi, saodah (merah), andel abang, rojolele asli, rojolele gepyok, ketan putih dan ketan hitam.
Secara sosial, petani organik yang terhimpun dalam paguyuban ini telah memiliki suatu wadah untuk mencapai tujuan bersama seperti peningkatan kesejahteraan, keadilan, kelestarian lingkungan, gotongroyong dalam pengelolaan irigasi, serta bertambahnya wawasan dan keterampilan.

Tantangan Pengembangan Pertanian Lestari

Pertanian Lestari yang telah dikembangkan dan dijalankan oleh Paguyuban Tani Kembang Lestari ke depan akan menghadapi berbagai tantangan berat, yaitu:

• Budaya praktis yang menyebabkan kerja pertanian dilakukan dengan sistem borongan (memberi upah dalam tiap kerja pengolahan lahan, tanam, irigasi, panen) karena biasanya laki-laki kerja di bangunan sehingga pertanian dikelola oleh para perempuan yang lebih mengutamakan cepat atau praktisnya saja.
• Kurangnya tenaga kerja pertanian, karena generasi muda pedesaan tidak lagi tertarik kerja di sawah alasannya kerja pertanian penghasilannya musiman (tidak tetap) sehingga memilih buruh di kota.
• Konversi dari pertanian kimia ke Pertanian Lestar butuh waktu, karena bila dilakukan secara drastic petani akan rugi (berkurangnya hasil produksi) dan ini menyebabkan petani menjadi jera.
• Penerapan pertanian organik murni (tanpa pupuk kimia) di saat kemarau (kurang air) menghadapi kendala karena pertumbuhan tanaman padi kurang optimal bila tidak dipacu dengan pupuk kimia.

Walaupun tantangan-tantangan tersebut sangat berat dirasakan, namun Paguyuban Tani Kembang Lestari tetap bertekad untuk menjalankan Pertanian Lestari karena memiliki prospek cerah terutama peluang pasar di mana ada kecenderungan orang semakin sadar manfaat mengkonsumsi produk bebas pencemaran. Untuk itu paguyuban akan terus berupaya memperluas gerakan kepada petani lain di desa setempat agar citacita membangun pedesaan dan Pertanian Lestari bisa terwujud.
Selain itu, paguyuban juga akan meningkatkan pemahaman dan perbaikan teknologi secara terus-menerus tentang manfaat bertani lestari kepada para anggota dan petani lain, serta membangun jaringan kemitraan kepada semua pihak untuk memperkuat gerakan tani lestari.
Demikian satu pengalaman dari Paguyuban Tani Kembang Lestari. Suatu gerakan yang semula diikuti oleh beberapa petani saja kini sudah memiliki anggota 40 orang. Saat ini Pak Muharjo juga dipercaya menjadi koordinator wilayah untuk 20 paguyuban tani di wilayah Bantul untuk bersama-sama mempromosikan Pertanian Lestari. Contoh kegiatannya adalah menyebarkan informasi Pertanian Lestari secara terus menerus,
pendampingan rutin ke 20 paguyuban tani lestari di Bantul, dan berdialog dengan Pemkab Bantul (Dinas Pertanian), saat peringatan Hari Pangan Sedunia pada bulan Oktober, agar ikut mendukung gerakan pertanian lestari yang dijalankannya selama ini.

St. Muharjo
Petani dan Ketua Paguyuban Tani Kembang Lestari
Dusun Kembangkerep, Desa Srihardono,
Kec. Pundong, Kab. Bantul, Yogyakarta

1 komentar:

Unknown mengatakan...

bisa minta nomer hp P. Muharjo?